Ada dikala membutuhkan.
—
Lelaki dengan putih polos itu masuk kedalam rumah Gracia dengan wajah murung. Matanya langsung menangkap Gracia yang duduk dikarpet dekat sofa dan sedang berkutik dengan tugasnya. Tanpa membiarkan Gracia menoleh, Jevan langsung memeluk Gracia hingga tangannya tak sengaja menciptakan garis di buku tugas milik Gracia.
“Jevan! Buku tugas gue kecoret sama lo!” teriak Gracia dengan kesal.
Jevan mengeratkan pelukannya. Membenamkan kepalanya pada ceruk leher Gracia dan mengusap rambut gadis itu.
“Maaf udah nuduh lo terus.” ujar Jevan dengan suara pelan.
Gracia terdiam. Hatinya terasa menghangat saat mendengar kata maaf dan juga suara lembut milik Jevan. Namun harus terasa seperti tercubit kembali saat mengingat mereka berpelukan dikala Jevan sudah memiliki kekasih.
Gadis itu melepaskan pelukannya kepada Jevan, membuat Jevan menatap bingung karna tak seperti biasanya Gracia melepaskan pelukannya sebelum Jevan.
“Kenapa, Ci?”
“Jev, gak seharusnya begini. Lo udah punya cewek.”
Jevan menatap bingung Gracia. Karna sejujurnya menurut Jevan tidak ada yang salah dengan perlakuannya. Berpelukan dengan sahabat sendiri adalah hal wajar kan?
“Rara tau kita sahabatan, Ci. Lo tenang aja. Jangan dilepas ya? Gue nyaman banget kalo lo peluk.”
Lagi-lagi Jevan menarik Gracia kedalam pelukannya. Perempuan itu tidak dapat menolak. Karna ini satu-satunya situasi Jevan dan Gracia dapat berdekatan.