Akhir sebuah kisah.
Suasana ramai pada grand opening toko roti milik Haekal tak membuat lelaki itu bisa istirahat dalam waktu sejenak. Sejak tadi, Haekal terus berjalan kesana-kemari untuk menyambut tamu serta menanyakan bagaimana rasa roti dan kue buatan dia. Sedangkan Jemian dan Reon terus mengikuti Haekal, membantu lelaki itu untuk mendokumentasikan hari bahagianya.
“Capek.” ujar Jemian setelah ia bisa duduk di bangku depan toko. Jemian mengibaskan tangannya, berusaha menghilangkan keringat yang mengucur dari pelipisnya.
Reon menoleh kearah Haekal yang langsung diam disebelahnya. Melihat Haekal yang terfokus pada ponsel namun tak ada yang lelaki itu lakukan. “Lo kenapa?” tanya Reon sembari menyenggol bahu Haekal.
Haekal menoleh, menatap Reon dengan sebelah alis yang terangkat “Kenapa apanya? Gue gpp. Cuman capek doang. Pegel.” Ujar Haekal dengan wajah yang berusaha meyakinkan. Walaupun didalam lubuk hatinya, lelaki itu berharap Orelyn datang untuk mengucapkan selamat.
“Yaelah, masih aja lo bohong ke kita. Orelyn ya?” Jemian menaikan sebelah alisnya, menatap Haekal yang tiba-tiba saja tersenyum dan berdecih pelan.
“Mending lo berdua makan. Nyobain roti gue. Gih kedalem.”
Jemian dan Reon mendengus dengan kesal. Mereka berdua berdiri dari duduknya, memilih untuk masuk kedalam karna menahan lapar sejak tadi pagi. Meninggalkan Haekal yang wajahnya berubah murung kembali.
“Aku kira kamu nepatin janji kamu, Rel.” gumam lelaki itu. Tangannya dengan cekatan membuka galeri dan membuka album fotor bersama kekasihnya.
Melihat-lihat banyaknya kenangan yang dibuat sejak kecil. Sejak Haekal dan Orelyn masih menjadi teman, hingga sekarang telah bertunangan. Sebuah kenyataan yang masih Haekal tak percaya.
“Hai. Dengan mas Haekal?” sapaan seorang gadis berambut panjang yang di kuncir kuda itu membuat Haekal menoleh.
Lelaki itu berdiri dari duduknya, mendekati perempuan yang berdiri sekitar satu meter dari dirinya.
“Rel? Loh? Kok kamu disini?” tanya Haekal dengan bingung. Ia mengusap matanya, takut jika hanya halusinasi karna keinginan Haekal untuk Orelyn datang.
“Gak ah. Orelyn ke Bali. Halu nih gue.” gumam Haekal. Lelaki itu membalikan badannya, melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam toko miliknya. Namun belum sampai lima langkah, Haekal merasakan ada tangan yang mendekapnya dari belakang.
“Ekal, ini aku.” ujar Orelyn dengan bibir yang ia manyunkan. Gadis itu berjalan kehadapan Haekal, memperhatikan wajah Haekal yang terlihat bingung sekarang.
“Kal, sadar. Orelyn ke Bali, gak mungkin ad-”
cup-!
Satu kecupan di pipi Haekal mendarat bergitu saja. Haekal mematung di tempat, memberikan ekspresi terkejut yang membuat Orelyn tertawa gemas.
“Haekal! Ini aku ih! Masa gak percaya? Udah aku cium padahal.” Orelyn berujar dengan sedikit rengekan didalam kalimatnya. Gadis itu memanyunkan bibirnya, menatap kesal kearah lelaki yang telah menjadi tunangannya sekarang.
Dengan gerakan yang cepat, Haekal mendekap tubuh Orelyn dengan erat. Banyak pasang mata yang melihatnya, menyaksikan sebuah kegemasan dari Orelyn dan Haekal.
“Katanya kamu ke Bali?! Kok tiba-tiba disini?! Jelas aku gak percaya lah!” tutur Haekal dengan nada kesal tetapi lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
Orelyn tertawa dengan pelan, gadis itu membalas pelukan Haekal. Membenamkan wajahnya pada bahu lebar milil Haekal.
“Aku cuman bercanda. Mau bikin kamu ngambek, eh ternyata beneran ngambek. Mana gak chat aku dari pagi.” ujar Orelyn dengan nada kesal diakhir kalimatnya. Gadis itu melepaskan pelukannya perlahan, menatap Haekal yang memanyunkan bibirnya.
“Jahat ah. Masa bohongnya bikin aku sedih? Aku jadi gak mood tau dari pagi.” Haekal merengek layaknya anak kecil. Banyak yang tertawa dengan gemas. Sedangkan Reon dan Jemian menatap jijik kearah temannya.
“Temen lo tuh, Jem.”
“Amit-amit.”
Haekal menatap kearah sekitarnya, bahkan lelaki itu lupa sedang berada di keramaian sekarang. Menggaruk tengkuknya dengan rasa malu yang ia rasakan.
“Kenapa? Malu ya? Makannya jiwa bayinya di simpen dulu, tunggu kita nikah aja. Yang bisa liat jiwa bayi kamu itu cuman aku.” ujar Orelyn sembari memainkan jaket yang digunakan oleh Haekal.
Lelaki itu tersenyum lebar saat mendengar kata menikah. Haekal memeluk pinggang Orelyn, menatap wajah gadisnya yang terkejut karna gerakan tiba-tiba dari Haekal.
“Bulan depan, kita nikah ya?” ucap Haekal dengan senyuman di bibirnya.
Orelyn menatap Haekal dengan tatapan yang terkejut, gadis itu mengerjap beberapa kali, berusaha mengatur degup jantungnya yang begitu kencang.
“Sayang? Gimana?” tanya Haekal sekali lagi. Orelyn melebarkan senyuman di bibirnya, ia mengusap pipi Haekal lalu mengangguk dengan mantap.
“Beneran?! Yes!” Haekal memeluk Orelyn dengan erat, menggendong gadisnya lalu berputar beberapa kali hingga bahunya di pukul oleh Orelyn.
“Haekal!! Nanti jatuh!!”
“Biarin! WOI! GUE NIKAH WOI! DATENG YA KALIAN!” Haekal menurunkan Orelyn dari gendongannya. Menyebarkan kabar gembira dengan semangat. Mengajak Orelyn untuk masuk kedalam tokonya.
Hari itu, mereka semua merayakan grand opening toko roti milik Haekal dengan rasa yang bahagia. Mengikut sertakan kebahagiaan yang Haekal rasakan. Menjadi saksi dimana Haekal berteriak dengan gembira karna akan menikahkan cinta pertamanya.
Banyak orang yang selalu membicarakan tentang cinta pertama yang akan selalu gagal. Namun, Haekal berhasil mematahkan itu semua. Tidak ada sesuatu yang gagal jika kita tidak berusaha. Tidak ada sesuatu yang gagal jika memang jalannya.
Jodoh, rezeki, maut, kehidupan, semuanya telah diatur oleh Tuhan. Sekarang Haekal hanya perlu berusaha lebih keras.
Membahagiakan Orelyn dan mengantarkan gadis itu pada hidup yang damai.