Akhir yang damai.

Pukul 06.00 pagi Kayna sudah disibukan dengan urusan ibu rumah tanggan. Tangan dan juga kaki ibu muda itu dengan gesit menaruh sarapan untuk suami serta anak kembarnya. Menaruh beberapa piring dan nasi goreng sosis diatas meja makan.

Setelah selesai gadis itu lebih memilih ke kamarnya. Membangunkan sang suami yang masih saja terlelap didalam mimpi.

“Mas, bangun.” Kayna menyibakan selimut Mahesa, membuat lelaki itu melenguh karna terusik.

“Sebentar, aku masih ngantuk sayang.” ujarnya dengan suara yang serak.

Kayna mendengus kesal. Langkahnya ia gerakan menuju satu ranjang besar untuk dua anak di samping ranjang tidurnya.

“Mahen sayang, bangun yuk.” Kayna menggendong anak lelakinya. Mengusap rambut Mahen dengan sangat lembut.

“Kok cuman Mahen yang di gendong? Princess aku juga harus di gendong.”

Mahesa turun dari ranjangnya, ia langsung menggendong Kala dengan perlahan. Sudah seperti pekerjaannya setiap pagi. Selalu menggendong kedua anaknya untuk membangunkan sarapan.

“Princess, bangun yuk. Kita sarapan.”

Kala melenguh dengan pelan, ia langsung menangis merasa tidurnya terganggu hingga Mahen ikut terbangun karna suara tangisan Kala yang terlalu kencang.

“Kala! Belisik!” Mahen nyaris saja berhasil memukul kepala Kala jika Kayna tidak dengan cepat menjauhkan Mahen dari Kala.

“Mahen, gak boleh galak sama adiknya. Mau tangannya nanti di potong sama Papa, hm?”

Mahen langsung mengerucutkan bibirnya, membuat Kayna dan juga Mahesa terkekeh karna gemas dengan tingkah anak laki-lakinya.

“Udah udah. Yuk kita sarapan, Mama udah masakin nasi goreng sosis buat kalian.” ujar Kayna dengan bersemangat. Ia berjalan keluar, membawa Mahen untuk keruang makan.

Mahesa mengikuti dari belakang. Lelaki itu tersenyum sambil menatap Kayna dengan rasa bersyukur yang sangat besar.

Awalnya Mahesa menolak akan keberadaan Kayna. Tapi semakin lama lelaki itu merasakan bahwa Kayna telah berhasil mengambil seluruh hatinya. Sifat Kayna yang sangat lembut berhasil membuat Mahesa jatuh untuk yang ketiga kali dan yang terakhir kalinya.

Mahesa bersyukur, Kayna masih mau bertahan dengan dirinya yang kaku. Bahkan Mahesa sadar bahwa ia tak seromantis lelaki yang lain. Tetapi Kayna tak masalah akan hal itu.

Karna menurut Kayna hidup bersama Mahesa hingga tua adalah kenangan yang akan sangat indah.