Alergi

Suhu yang dingin pada malam hari itu tak meluputkan rasa senang Jevan karna melihat Kara yang memakan martabak pembeliannya. Tanpa Jevan tau jika Kara alergi semua jenis coklat.

Jika kalian bertanya, mengapa Kara tidak memberitau soal alerginya jawabannya adalah Kara tidak mau Jevan kecewa karna Kara menolak pemberian dari lelaki itu, yang berhubungan dengan Gracia.

Rasanya mencintai orang lain yang seperti tidak mencintai dirinya adalah rasa paling sakit yang Kara pernah alami. Namun Kara tak mau melepaskan Jevan, menurutnya melepaskan tanpa alasan yang kuat adalah kebodohan paling besar. Ia ingin Jevan tak berkutik diakhir hubungannya nanti.

Kara terus mengunyah martabaknya dengan sangat terpaksa. Tenggorokan gadis itu sudah mulai sakit dan juga perut yang sudah terasa mual. Ingin sekali ia memuntahkan makanannya sekarang.

“Gimana, Ra? Enak kan?” tanya Jevan dengan sangat antusias.

Sedangkan Kara hanya diam. Ia berhenti mengunyah saat gadis itu merasakan nafasnya mulai sesak. Rasa yang paling Kara benci jika ia kambuh karna alerginya.

“Ra? Kamu kenapa?” tanya Jevan khawatir karna melihat wajah Kara yang memerah.

Kara menggeleng, ia menelan suapan terakhirnya dengan sangat terpaksa. Namun hal tersebut yang membuat nafas Kara semakin berat hingga terdengar oleh Jevan. Ia terus memukuli dadanya yang sesak.

“Ra, kamu kenapa? Kamu kenapa hey?” Jevan menatap cemas. Ia memegangi Kara yang wajahnya sudah mulai membiru.

Dengan cepat lelaki itu menggendong Kara, membawa ke mobilnya lalu melajukan mobilnya kerumah sakit terdekat.

Selama perlajanan tangannya terus menggenggam tangan Kara yang mencengkram. Entah apa yang membuat Kara seperti ini, jelas Jevan tidak tau.

Karna selama satu tahun pacaran, lelaki itu tak pernah mencari tau Kara lebih dalam.