Alone.

Jari jemari lentik milik seorang lelaki yang sudah tertidur sejak 2 hari yang lalu perlahan bergerak, memberikan tanda jika jiwa lelaki itu dengan perlahan kembali kepada raganya. Matanya mengerjap dengan perlahan untuk menyesuaikan cahaya, ia langsung melihat sekelilingnya yang masih terlihat buram dan... sepi.

Pikiran yang pertama kali ia layangkan adalah, dimana keberadaan sang Papa? Jonathan, pria dewasa itu biasanya berada di samping dirinya dengan menggenggam jari jemari Raga dengan sangat lembut. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda.

Raga terbangun dengan hawa dingin yang menyelimuti dirinya. Aneh, sungguh sangat aneh Raga merasakannya.

Ketika pandangannya mulai membaik sepenuhnya, beberapa perawat dan satu dokter masuk dengan alat medis yang mereka bawa. Dokter tersebut langsung memeriksa keadaan Raga, melihat kedua mata Raga dan melakukan beberapa tahapan yang sedikit membuat Raga meringis.

“Om Hendra, Papa mana?” pertanyaan pertama dengan suara pelan milik Raga.

Hendra tersenyum tipis, disatu sisi ia sangat tidak tega dengan Raga yang baru saja sadar setelah dua hari berada didalam kegelapan. Namun, disisi lain ia harus tetap bersikap profesional sebagai Dokter yang merawat Raga.

“Nanti kamu cek ponsel kamu aja ya? Tapi, setelah kamu lebih membaik dari sekarang.” jawab Dokter Hendra dengan senyumannya.

Raga tidak kembali menjawab, tubuhnya melemas ketika salah satu perawat menyuntikan dosis obat yang Raga selalu terima setiap ia sadar dari tidur panjangnya.

Namun, pikiran itu tidak berhenti bekerja. Raga masih berfikir dimana keberadaan Jonathan sekarang? Ini pertama kalinya Jonathan tidak ada diruangannya. Apa Jonathan sudah sangat muak dengan kondisi Raga yang sulit sekali untuk stabil.

Tapi, bukankah tanpa Raga, Jonathan akan hidup dengan berantakan?