'Anak bodoh!'

Suasana ruangan yang dilapisi oleh pengedap suara benar-benar tegang untuk ayah dan anak yang berhadapan dengan Jeffryan serta Orelyn. Gadis yang menunduk itu memainkan jarinya sejak tadi. Fikirannya langsung melayang ketika ia berada dirumah dan mendapat pukulan-pukulan keji dari sang Papa.

“Jadi, apa yang mau kamu jelasin?” suara berat milik Jeffryan berhasil masuk kedalam gendang telinga Evelyn begitu saja. Tangan gadis itu bergetar, wajahnya benar-benar berkeringat dingin hingga menetes pada dress merah yang ia kenakan.

“Kalo lo gak mampu yaudah. Gak usah rusak acara berharga gue kali.” kali ini Orelyn yang berucap dengan santai. Gadis itu sibuk melihat kukunya yang telah dilukis dengan cantik sejak tadi siang. “Oh ya, dan soal Haekal, dia itu pacar gue.”

“Kenapa kamu tidak menjawab?” tuturan dari Jeffryan bercampur dengan geraman yang sangat rendah. Lelaki itu bahkan mengepalkan tangannya diatas meja, bersiap untuk menggebrak meja kapan saja.

“Jeff, maafin anak saya ya? Anak saya mungkin memang salah, tapi pasti dibalik itu semua ada alasannya.” Pembelaan dari Harsa membuat Orelyn berdecih dengan sinis. Gadis itu membenarkan duduknya, menunjuk luka gores yang berada di pipinya.

“Coba liat ini, Om. Saya luka, sedangkan anak om baik-baik aja. Coba kasih alasan yang jelas kenapa anak Om bikin saya luka.” Ujar Orelyn dengan suara yang rendah. Jujur, gadis itu telah muak dengan sifat keluarga Evelyn.

“Lo jawab dong. Jangan berlindung dibalik bokap lo. Selama lo ngata-ngatain gue, pernah gak gue ngadu ke bokap? Lo ngatain gue jalang, gue ngadu ke bokap gak? Lo ngatain gue murahan, gue ngadu ke bokap gak? Nggak! Kalo gue ngadu lo udah di DO dari kampus. Tolol.” Tutur panjang Orelyn membuat Jeffryan terkejut. Memang benar selama ini Orelyn tak pernah bercerita apapun. Bahkan gadis itu hanya bilang ada yang melakukan pembullyan pada dirinya.

Brak-!

“Jawab! Kasih penjelasan ke saya kenapa kamu melakukan itu semua kepada anak saya!”

Evelyn tersentak dengan gebrakan meja yang ditimbulkan oleh Jeffryan. Gadis itu menggeleng dengan pelan. Tubuhnya gemetar akibat rasa takut yang ia rasakan.

“M-maaf. Saya cuman gak suka kalau Orelyn dekat dengan Haekal.” Suara Evelyn terdengar gemetar ditelinga Orelyn. Evelyn terisak dengan pelan, dirinya benar-benar mati kutu sekarang.

“Hahaha, mana diri lo yang pemberani itu? Udah ilang? Hm? Gak usah sok jagoan kalo baru diginiin aja lo ciut.” Orelyn tertawa dengan sangat puas. Gadis itu berdiri dari duduknya. “Pa, aku duluan ya. Mau makan malem sama Haekal. Dadah Papa.” Gadis itu mencium pipi Jeffryan dengan gembira. Langkahnya langsung membawa ia pergi keluar dari ruangan yang sangat kedap udara.

“Jeff, ini salah anak saya. Kita tetap bisa melakukan kerjasama kan? Kita baru berbaikan beberapa jam yang lalu untuk kelancaran perusahaan. Kamu tidak akan membatalkan kerjasama itu kan?” Harsa menatap Jeffryan dengan tatapan yang penuh harap. Sangat terlihat konyol dimata lelaki itu.

“Setelah anak kamu menyakiti anak saya? Saya tidak sudi bekerjasama dengan kamu. Akan saya cabut semua investasi yang telah saya berikan.” Ujar Jeffryan dengan sangat tegas. Lelaki itu berdiri dari duduknya, menatap Evelyn dan Harsa secara bergantian. “Kalian mencari lawan yang salah, bodoh.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Jeffryan keluar dari ruangan tersebut dengan langkah tegapnya.

Harsa mengepalkan tangannya dengan kuat, ia menarik lengan Evelyn dengan kasar dan menampar putrinya dengan sangat keras hingga terjatuh.

“Anak bodoh! Saya menyesal telah mengadopsi kamu!”