“Ayah, untuk sekarang gak ada yang abadi.”

Tara memandangi anak semata wayangnya yang semakin hari semakin pucat. Tubuhnya bahkan sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Bahkan sekarang Bintang harus bergantung pada infus dan juga obat-obatan setiap harinya.

“Biasa aja kali ngeliatin Bintangnya.” ujar Bintang dengan nada sinisnya. Tidak, Bintang tidak kesal dengan sang Ayah. Namun memang seperti itu mereka. Layaknya seorang teman.

“Yeu, geer kamu. Siapa juga yang ngeliatin kamu.” Tara mendengus. Ia kembali memandangi langit gelap yang dipenuhi dengan bintang bintang kecil.

“Ayah, Mama lagi ngapain ya di surga?” tanya Bintang secara tiba-tiba membuat Tara terdiam.

“Yah, kira-kira Ayah duluan atau Bintang duluan yang bakalan nemenin Mama?”

Tara memandangi anaknya dengan tatapan yang sangat lembut dan juga sendu. Lelaki itu benar-benar menyangi Bintang. Bahkan ia rela memberi seluruh kehidupannya untuk anak itu.

“Gak ada yang akan nemenin Mama duluan. Kamu dan Ayah bakalan tetap disini, kita bakalan bareng-bareng terus sampai Ayah tua.”

“Ayah, untuk sekarang gak ada yang abadi. Mau Bintang atau Ayah, pasti ada yang pergi terlebih dahulu.”

Bintang memejamkan matanya sejenak. Ia tau satu fakta bahwa Tara adalah Ayah sambungnya, tetapi ia benar-benar menyayangi Tara seperti Ayah kandungnya.

Ingatan gelapnya kembali muncul saat Bintang mengingat Papa nya dulu. Ingatan yang membuat Bintang kembali merasa tak nyaman dan juga sesak. Kejadian saat itu membuat dirinya benar-benar hancur didalam hidupnya.

“Ayah, Papa bahagia gak ya sama selingkuhannya?” tanya Bintang dengan senyum getir. Bahkan Bintang sangat membenci lelaki itu. Tetapi ia tak dapat bohong jika ia sangat merindukan Papa nya.

Tara menggenggam tangan anaknya. Menyalurkan rasa hangat untuk Bintang yang mulai tak bisa mengontrol perasaan untuk menangis.

“Sesuatu yang dilakukan secara gak baik, pasti akan berujung gak baik, Bintang. Ayah yakin pasti Papa kamu gak bahagia sama keluarga barunya.”

Tara tersenyum tipis, diikuti Bintang yang juga tersenyum. Bintang menghapus air mata yang keluar. Harusnya ia tak boleh menangis untuk lelaki yang telah mematahkan hatinya untuk yang pertama kali.

“Udah ah. Bintang jadi cengeng gini.” Bintang terkekeh, berusaha mencairkan suasana yang sempat berubah menyedihkan.

“Kamu bertahan ya? Demi diri kamu, demi Ayya, dan demi Ayah. Ayah gak punya siapa-siapa selain kamu.”

“Iya, Ayah. Udah ah jangan nangis. Masa brother Bintang nangis?”

Bintang memeluk sang Ayah. Ia mengusap punggu Tara, berusaha menenangkan Ayahnya yang terlihat cemas.

Sesungguhnya Bintang sama cemasnya. Ia takut tak bisa bertahan lama, ia juga takut tak bisa berjuang untuk Ayyara dan juga Ayah nya.

Ia hanya pasrah. Mengikuti takdi tuhan, berdo'a dan juga berusaha.