Bad Day.
Dinginnya udara pada pukul 17.15 berhasil menembus ke kamar Orelyn. Gadis itu melenguh dengan pelan, mengusap matanya yang masih perih sebab ia terbangun dari tidur siangnya.
Gadis itu menyingkirkan selimutnya. Ia membuka matanya untuk melihat jam dinding yang berada tepat di depannya. Orelyn terdiam sejenak. Memikirkan sesuatu yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.
Dengan tergesa gadis itu mengambil ponselnya. Membuka kuncinya lalu melihat pesan dari sang Papa. Orelyn berdecak. Semuanya hanya bunga tidur yang sangat buruk untuknya.
“Ck, bisa-bisanya Evelyn masuk ke mimpi gue. Jadi kembaran gue lagi.” gumam gadis itu.
Orelyn turun dari kasurnya. Langkahnya ia jalankan menuju balkon Apartnya. Gadis itu terdiam sejenak. Memikirkan mimpi buruk yang sangat tidak ingin terjadi di kehidupannya sekarang.
“Ish! Cuman mimpi tapi gue panik banget. Lagian kata Papa kembaran gue udah gak ada kok. Malah dia cowok, bukan cewek.” Orelyn mendelik dengan kesal. Gadis itu menatap kearah langit yang telah berubah abu tua yang menandakan akan turunnya hujan.
“Kalo dia masih hidup, pasti gue gak ngerasa kesepian. Dia pasti bahagia sama Mama.” gumam Orelyn.
Gadis itu menghela nafas pelan. Ia memilih untuk masuk saat merasakan rintikan hujan yang mulai turun secara perlahan. Moodnya berubah turun saat ia kembali merasakan kesepian.
Orelyn bukan berbicara tentang temannya yang banyak. Namun gadis itu berbicara tentang keluarganya yang sangat dingin sekarang. Orelyn hanya memiliki Jeffry sebagai Papanya. Hanya hidup berdua namun ia merasakan kesendirian.
Jeffry yang sibuk dengan pekerjaannya, dan Orelyn yang sibuk dengan kuliahnya.