Bahu sang penguat.

Mata sembab milik Alingga hanya menatap kearah lantai dengan pandangan yang kosong. Gadis itu enggan untuk masuk, terlalu takut dengan situasi yang kembali terulang untuk kedua kali. Gadis itu sangat benci rumah sakit. Tempat dimana Ayahnya telah diambil ke sisi Tuhan.

Pendengarannya sempat menangkap obrolan dokter dengan sekretaris Bundanya. Satu kata yang Alingga ingat. Aneurisma.

Alingga tak tau banyak tentang Aneurisma, namun ia tau, Aneurisma adalah komplikasi serius pada penyakit jantung. Satu kata yang membuat Alingga paham dengan keadaan.

Saat pikiran gadis itu sedang berkecamuk, secara tiba-tiba tubuhnya ditarik kedalam dekapan seseorang. Alingga tersentak dengan tarikan yang diberikan oleh lelaki yang mendekapnya.

“Alingga, gue tau lo kuat. I'm so proud of you. Lo hebat, jangan nangis ya? Kalo lo nangis, siapa yang bakalan nguatin Bunda lo?” bisik lelaki itu.

Alingga terdiam. Suara yang sangat familiar. Laki-laki yang beberapa jam lalu bilang dirinya adalah kesialan. Lelaki yang telah mencaci maki dirinya dan Ibundanya.

Namun pelukan itu tak Alingga lepas, seberapa benci ia kepada Angkasa. Karna yang Alingga butuhkan saat ini adalah sebuah bahu untuk sandaran. Sandaran penguat untuk dirinya.