Berangkat
—
Ayyara terus memandangi tangan kirinya yang memegang tiket pesawat. Sedangkan tangan kanannya terus di genggam oleh Bintang.
Setelah seminggu lebih Ayyara bergulat dengan fikiran dan juga hatinya sendiri. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke Los Angelas. Meraih impiannya dan juga membalaskan perbuatan Naura.
“Ay, kenapa hm? Sayangnya Bintang kenapa diem aja?” Tanya Bintang dengan lembut.
Ayyara menoleh kearah kekasihnya. Ia memperhatikan wajah Bintang yang pucat serta pipi Bintang yang berubah tirus. Bahkan rambut tebal milik lelaki itu sekarang telah berubah menjadi tipis.
“Bintang, janji ya sama Ayya buat baik-baik aja. Tunggu Ayya pulang ya? Janji Bintang harus jemput Ayya kalau Ayya udah pulang.”
Ayyara menatap lekat mata Bintang yang berubah menyipit karna tersenyum. Tangan lelaki itu dengan lembut mengusap rambut Ayyara. Membuat gadis itu lebih tenang dari sebelumnya.
“Aku gak janji, Ay. Aku gak bisa ngeduluin takdir dari Tuhan. Kita berusaha aja ya?” Ujar Bintang dengan lembut.
Ayyara mengangguk pelan, gadis itu langsung memeluk Bintang dan menghirup aroma coffe kesukaan kekasihnya.
“Ayyara, ayo.” Suara berat milik Renan membuat Ayyara melepaskan pelukannya.
Ia menghapus air matanya dengan cepat. Dan dengan secepat kilat perempuan itu mencium pipi Bintang.
“Bintang, Ayya berangkat dulu ya.”
Ayyara tersenyum kepada Bintang untuk yang terakhir kalinya sebelum Ayyara masuk kedalam. Melambaikan tangan kepada Bintang, mengucap kalimat perpisahan yang cukup menyedihkan.
Ayyara takut untuk berangkat. Ayyara takut jika ia tak bisa melihat Bintang kembali. Ayyara takut jika Tuhan memberikan takdir jahat kepadanya.
Namun Ayyara juga ingin Papanya bebas dari lingkaran setan milik Naura. Ia ingin menjaga Papanya, ia ingin membawa Bryan jauh dari Naura.
Tetapi akhirnya Ayyara memilih untuk berangkat. Membuktikan bahwa Ayyara tak lemah seperti yang dilihat. Dan juga Ayyara ingin memberikan Bintang kehidupan yang lebih lama.