Bertemu lagi
Teriknya matahari pada pukul 11.30 tidak membuat beberapa siswa yang bermain bola untuk meneduh. Mereka semakin asik menendang bola kesana kemari untuk mencapai gol pada timnya. Salah satunya adalah Prasatya.
Lelaki itu sedari tadi terus berhenti untuk mengatur nafasnya. Bajunya ia kibaskan untuk mendapatkan angin dan lengan bajunya ia gunakan untuk mengusap keringat di dahinya.
“Panas banget anjir.” ujar Satya kepada Reno yang berdiri disebelah lelaki itu.
Reno mengangguk. Ia memperhatikan Charel dan Jemian yang juga sedang bermain. Sedangkan Justin dan Jeano sedang belajar untuk lomba olimpiade yang diadakan sebentar lagi.
“Kantin kuy.” ajak Reno.
Satya mengangguk. Ia berpamitan kepada Charel dan Jemian lalu mengikuti langkah Reno.
Selama perjalanan lelaki itu bersenandung kecil. Satya lebih suka disekolah dari pada dirumah. Padahal banyak orang bilang rumah adalah tempat paling nyaman. Nyatanya rumah adalah neraka bagi Satya.
“Nih.” Reno memberikan air mineral dingin kepada Satya.
“Thanks.” Satya mengambil air mineralnya dengan suka hati. Matanya mengedar, memperhatikan isi kantin yang cukup ramai.
Namun bola mata itu berhenti saat ia melihat sang kakak datang dengan seorang perempuan. Yang tentu tak asing bagi Satya.
“Eh, ada kakak gue.”
“Mana?”
Reno ikut menoleh kearah yang ditunjuk Satya. Matanya menatap bingung saat melihat Senjani yang datang bersama dengan Marvel. Bagaimana bisa?
“Kok kakak gue bisa sama abang lo?” ucapan Reno jelas membuat Satya terkejut.
“Dia kakak lo?”
“Iya. Senjani namanya.”
Untuk yang kedua kalinya lelaki itu membulatkan mata. Senjani yang Satya kenal adalah Senja yang sedang di dekati oleh abangnya. Dan kemungkinan besar kakak dari Reno lah yang dimaksud oleh Marvel.
“Reno!” panggilan dari Senjani membuat Reno tersenyum. Ia mendekati Senja dan diikuti oleh Satya.
“Ngapain lo kesini?”
“Gue mau nganterin bekel. Jangan jajan sembarangan.” ujar Senja sambil memberikan kotak bekal.
Reno menganggil. Ia mengambil kotak makan tersebut.
“Senja, ini Satya. Adik aku.”
“Oh! Hai Satya!” Senja mengulurkan tangan kanannya, niat ingin bersalaman namun Satya hanya diam di tempatnya. Enggan untuk mengulurkan tangan. Hal itu membuat Senja menurunkan tangannya kembali dengan wajah sedikit kecewa.
“Maaf, adik aku emang gini ke orang baru. Kamu udah kan? Mau balik ke kampus sekarang?”
Senja mengangguk. Ia terlihat memaksakan senyumannya. “Ayo.”
Marvel menepuk bahu Satya beberapa kali sebagai teguran. Lalu ia melewati Satya dan diikuti Senjani dibelakangnya.
“Selamat bertemu lagi, Ano.” bisik Senja tepat ditelinga Satya. Lalu ia mempercepat langkahnya menyusul Marvel.
Satya terdiam. Panggilan Ano adalah panggilan yang hanya diperuntukan oleh Jani, teman SMP-nya yang sempat Satya sukai. Walau umur Senja lebih dua tahun darinya, namun entah mengapa Satya bisa menyukai gadis itu.
Dan sekarang Jani telah kembali lagi. Dengan Marvel didalam hidupnya.