Bintang yang kehilangan dunianya.

Lelaki dengan pakaian santai itu terus saja melihat jalanan dari dalam mobil. Tangan kanannya digenggam erat oleh sang kekasih.

Sejak sebulan lalu Bintang selalu saja menanyakan keberadaan Tara. Tetapi Ayyara dan yang lainnya bilang Tara ada didekatnya. Tara tak pergi kemanapun. Namuna kenapa Tara tak menemui dirinya?

Dan sekarang Dirga dan juga Ayyara menepati janji mereka. Mereka akan mengajak Bintang untuk bertemu dengan Tara setelah keadaan Bintang pulih kembali.

Namun lelaki itu mengernyitkan keningnya saat Dirga memarkirkan mobil diparkiran umum dekat dengan Tempat Pemakaman Umum. Bintang sangat penasaran mengapa Papanya membawa ia kesini.

“Sebentar, nak.” Dirga turun dari mobilnya. Membuka pintu mobil untuk Bintang dan membantu lelaki itu keluar dari mobil.

Bintang melihat sekitarnya. Tak ada bangunan apapun, hanya ada tempat pemakaman yang sangat bersih dan sepi.

Ayyara menggenggam erat tangan kekasihnya. Khawatir jika Bintang akan menangis histeris karna suatu kenyataan yang sangat menyakitkan.

“Ayo.” Dirga menuntunnya kedalam. Membeli air mawar dan juga bunga untuk ditabur.

Bintang hanya melihat, tak menanyakan apapun karna ia fikir Dirga akan ziarah kemakam kerabatnya.

“Papa mau nyekar siapa?” Tanya Bintang yang tidak direspon apapun oleh Dirga.

Papanya itu lanjut menuntunnya menuju salah satu makam yang terbilang masih baru. Bunga kering yang bertaburan dan juga beberapa ranting berada diatas makam itu.

Bintang menatap bingung karna ia tak membaca batu nisannya. Lebih tepatnya Bintang takut untuk membaca.

“Bintang, Papa sudah lunasi janji Papa ya?” Ujar Dirga.

Bintang menoleh, menatap bingung kepada sang Papa. Hatinya bergemuruh takut. Takut kenyataan sesuai dengan yang ada difikirannya.

“Pa, tapi Papa janji mau bawa Bintang ketemu sama Ayah.”

“Bintang, ini Ayah kamu.”

Ayyara menuntun Bintang untuk berjongkok dihadapan makam itu. Dengan mata memerah ia memberanikan diri untuk membaca nama yang berada di batu nisannyaa.

Kepalanya menggeleng dengan pelan. Merasa tak percaya bahwa itu adalah makan Tara, Ayah sambungnya.

Tangisnya langsung pecah seketika. Hatinya sakit saat ia sadar ini semua adalah kenyataan. Bukan mimpi buruk yang akan membuat Bintang bangun dan hidup bahagia bersama Tara. Ini semua skenario yang telah Tuhan rencanakan untuk Bintang.

“Ayah!!!” Bintang menjerit dengan kencang. Memeluk batu nisan itu dengan erat seolah memeluk sang Ayah.

Dunianya hancur. Ayahnya telah pergi ketempat yang tak bisa Bintang jangkau. Ketempat tinggi yang tidak ada jejaknya.

“Ayah, Ayah kenapa tinggalin Bintang? Ayah, Bintang gak suka Ayah pergi. Ayah janji mau rawat Bintang sampai Ayah tua. Ayah, ayo kembali. Ayah jangan tinggalin Bintang.”

Lelaki itu meracau dengan kalimat dan juga nada yang pilu. Membuat siapa saja yang mendengar akan menangis tersedu karna ikut merasakan kehilangan.

“Bintang, ikhlasin Om Tara ya? Om Tara udah tenang disana. Om Tara juga masa ada di diri Bintang. Hati Om Tara ada di tubuh Bintang.”

Ayyara menyentuh dada yang menunjukan ulu hati manusia. Bintang terdiam dengan nafas yang tercekat karna terlalu banyak menangis. Lalu lelaki itu langsung memeluk Ayyara dengan erat.

“Ay, kenapa harus Ayah? Kenapa harus Ayah yang berkorban? Kenapa harus orang yang gue sayang? Kenapa Tuhan korbanin Ayah gue buat kehidupan gue, Ay?”

“Bintang, takdir Tuhan itu gak ada yang buruk. Seburuknya takdir Tuhan pasti ada akhir yang bahagia. Bintang ikhlasin ya? Om Tara selalu ada disisi Bintang kok. Jangan nangis.”

Ayyara membalas pelukan lelaki itu. Menyalurkan rasa kuat untuk Bintang. Gadis itu merasa sakit jika melihat Bintang menangis.

“Ay, lo jangan pergi ya? Temenin gue. Hidup sama gue sampai kita tua. Jangan tinggalin gue sendirian.”

Dan pada akhirnya Bintang memohon kepada Tuhan untuk tidak mengambil kesayangannya kembali. Ia ingin hidup bersama Ayyara dengan damai. Tak mau membuat gadis itu menangis karna dirinya.

Bintang hanya mau, ia hidup berdua dengan Ayyara beserta anaknya kelak.

— END —