BONUS CHAPTER

Dua bingkai foto yang dipajang dikamarnya terus saja Bintang perhatikan. Dua foto Bintang bersama dengan orang tersayangnya. Tara dan juga Ayyara.

Lelaki ber jas hitam itu mengambil bingkai foto yang berisikan dirinya dan juga Tara. Potret itu diambil saat Bintang berumur 15 tahun. Sekitar 20 tahun yang lalu. Lelaki itu tersenyum saat mengingat kenangannya bersama Tara. Ada sedikit rasa sakit, namun perlahan Bintang bisa mengikhlaskan kepergian sang Ayah.

Lalu lekaki itu mengambil bingkai fotonya bersama Ayyara. Foto yang diambil saat hari pernikahan mereka berdua. Dimana hari yang paling Bintang nantikan dan Bintang harapkan. Senyuman bahagia Ayyara di foto itu membuat Bintang senang. Ayyara terlihat sangat tulus mencintai Bintang. Tak ada keraguan disana.

“Ayah!” Sapaan favorite Bintang saat pagi hari.

Ia menoleh kearah pintu. Mendapatkan anak laki-lakinya yang berdiri dengan Ayyara dibelakangnya.

“Jagoan Ayah udah siap berangkat sekolah ya?” Bintang menggendong Langit yang sudah rapih dengan pakaian Sekolah Dasar.

Langit mengangguk dengan semangat. Memeluk leher sang Ayah dan mencium pipi itu.

“Yaudah ayo berangkat. Pamit dulu sama Bunda.” Bintang mengulurkan tangan Langit untuk bersalim dengan Ayyara.

Gadis itu tersenyum. Menerima uluran tangan tersebut dan mencium kening Langit.

“Kalian hati-hati ya? Langit, nanti Bunda jemput oke? Langit tunggu Bunda di ruang guru? Arraseo?

Bintang terkekeh saat Ayyara mencampurkan bahasa dengan bahasa Korea. Istrinya memang jadi suka menonton drama korea semenjak mengandung Langit. Dan ya, bahkan wajah Langit pun bisa dibilang keturunan Korea.

“Kamu masih aja lucu, Ay.”

“Udah! Jangan gombal. Sana!” Ketus Ayyara kepada Bintang.

Bintang tersenyum, merasa gemas dengan istrinya. Bintang tak masalah jika Ayyara ketus seperti itu.

Karna Bintang tahu, Ayyara sedang mengandung anak kedua mereka.