BONUS CHAPTER 1

Lelaki dengan pakaian formalnya memberi kesan tampan yang sangat memuaskan untuk mata. Tangannya memegang sebuket bunga mawar. Bunga yang sama yang ia bawa selama empat tahun kebelakang untuk kekasihnya.

Kakinya berjalan dengan santai, melewati beberapa makam yang sudah terlihat lama. Matanya mengedar untuk mencari dimana letak makam kekasihnya. Meneliti satu persatu batu nisan hingga akhirnya ia menemukan makam yang dicari.

Bulan Hireksa

Nama yang tertulis pada batu nisan itu terdapat banyak kenangan. Mahesa, lelaki itu bahkan tidak bisa melupakan semua kenangan yang telah di lakukannya bersama dengan Bulan.

Ia melepaskan kaca mata hitamnya. Lelaki itu langsung duduk pada batu keramik yang sudah ada disamping makam Bulan. Tangannya membersihkan dedaunan kering yang berada di makam Bulan. Lalu ia menaruh bunga mawar segar diatas makamnya.

“Siang cantiknya Mahesa.” sapa Mahesa sambil mengusap batu nisan Bulan. Ia tersenyum, walau matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Esa, maaf ya aku baru datang lagi? Aku baru boleh diizinin untuk ke Indonesia lagi sama Papa.”

“Cantiknya Kakak lagi apa sekarang? Suka liatin aku gak dari atas? Kamu suka denger aku gak kalau lagi cerita tentang kamu? Kamu kangen gak sama aku?”

Mahesa terdiam sebentar. Lelaki itu menunduk, menarik nafas panjang agar dirinya tidak menangis untuk sekarang.

“Kakak kangen banget sama kamu, sayang. Aku selalu bicara dengan bintang yang paling terang. Aku selalu bayangin wajah kamu diantara bintang dan langit malam. Aku selalu pejamin mata supaya aku bisa rasain pelukan kamu, Esa.”

Air mata Mahesa keluar dengan perlahan. Lelaki itu langsung menghapusnya, tak ingin Bulan melihat Mahesa menangis di depannya.

“Esa, nanti malam datang ke mimpi Kakak ya, cantik? Kakak tunggu kamu, sayang.” Mahesa mencium bitu nisan Bulan. Mengusap batu itu sebentar lalu mengepalkan tangan untuk merapalkan do'a.

Setelah selesai lelaki itu berdiri. Langkahnya dengan cepat menuju parkiran dan memasuki mobil.

Mahesa bersandar, menatap atap mobil dengan nafas yang memburu. Setelah beberapa detik tangis lelaki itu langsung pecah seketika.

Ia merindukan Bulan. Ia merindukan Esa nya. Ia rindu dengan pelukan gadis yang membuat dirinya jatuh terlalu dalam dengan waktu yang singkat.

Singkatnya, Mahesa masih sangat mencintai sang Bulan.