Bukan Jevan.
Suara langkah kaki tak beraturan mendekati Darma yang duduk dengan wajah datar didepan ruang rawat. Wajah lelaki itu terlihat cemas karna kekasihnya mengalami kecelakaan hingga membuat mobilnya hancur.
“Dar, Kara gimana ke-”
Bugh-!
Belum sempat Jevan menyelesaikan ucapannya, Darma lebih dulu menonjoknya dengan kencang hingga membuat Jevan jatuh ke lantai.
“Lo beneran mau bunuh Kara? Iya?!” tanya Darma dengan geram.
Jevan bangun perlahan, ia menghapus sudut bibirnya yang berdarah.
“Demi Tuhan gue gak suruh petugas bengkel buat chat Kara dan minta dia buat ambil mobil gue.”
“Tapi petugasnya bilang kalo lo yang nyuruh sialan!”
“Kalo gue mau bunuh Kara udah gue bunuh dari dulu brengsek!”
Nafas Jevan dan juga Darma saling memburu. Mereka sama-sama memiliki emosi yang sudah berada diujung tanduk.
“Darma, Jevan, jangan ribut.” suara lemah seorang perempuan mengalihkan atensinya kepada Kara keluar ruangan dengan kursi roda.
Jevan langsung mendekati Kara, ia mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Kara.
“Kara, kamu baik-baik aja kan? Lukanya ada yang serius? Kenapa keluar? Kamu harus dirawat dulu, sayang.” ucap Jevan dengan perasaa yang sungguh khawatir.
Kara tak langsung menjawab, gadis itu lebih memilih untuk menunduk. “Jev, maaf. Mobil kamu rusak karna aku.”*
“Bukan salah kamu, sayang. Nanti aku bilang ke petugas bengkel supaya cari tau siapa yang nyuruh kamu buat ambil mobilnya ya? Demi Tuhan bukan aku yang suruh kamu.”
Kara menatap Jevan dengan tatapan bersalah, gadis itu langsung memeluk kekasihnya dengan erat. Mengabaikan rasa pusing dikepalanya.
“Kamu gak perlu dirawat kan? Kita pulang ya? Ayo.” Jevan melepaskan pelukannya dengan perlahan.
“Gue anter. Gue yakin lo gak bawa mobil.” ujar Darma lalu pergi ke parkiran terlebih dahulu.
“Cepet sembuh ya, sayang.”
Jevan mencium kening Kara dengan perlahan membuat gadis itu tersenyum. Dengan erat Kara menggenggam tangan Jevan walau lelaki itu mendorong kursi rodanya.
Hati Kara berubah menghangat saat diperlalukan lembut oleh Jevan. Namun, belum tentu Kara berhasil meluluhkan hati kekasihnya. Kara yakin masih ada nama Cia didalam hati itu.