Bukti-bukti.

Ruangan kedap udara yang ditempatkan banyak baju dan ruang rias juga ditempati oleh Evelyn yang sudah berganti pakaian dan mempoleskan make-upnya. Gadis itu tersenyum samar melihat dirinya yang berada di pantulan cermin. Mata itu terus memperhatikan dirinya yang sudah cantik di poleskan oleh bedak dan bahan kecantikan lainnya.

Sampai ruang ganti itu terbuka, mengalihkan perhatian dari pantulan dirinya. Mata tajam itu melirik kearah pintu, mendapati sang Papa yang berjalan kearah dirinya. Ia melirik perias, lalu mengibaskan tangan seolah mengusir perias itu. Dan langsung diikuti perintahnya.

“Mana dokumen dan rahasia perusahaan?” tanya Harsa setelah memastikan ruang rias itu hanya ditempati oleh mereka berdua.

Evelyn berdiri dari duduknya, ia mendekati Harsa dengan perlahan-lahan. Menatap Papa angkatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Mana, Evelyn?”

“Saya gak bawa.” jawab Evelyn dengan santainya. Tangan Harsa terkepal, ia menatap putri angkatnya dengan tajam.

“Mana, Evelyn?” tanya-nya lagi dengan perubahan nada yang rendah. Pria itu marah.

“Saya gak bodoh ya. Papa fikir saya mau memberi itu semua ke Papa? No!” jawaban Evelyn membuat tatapan Harsa semakin tajam. Lelaki itu telah murka sekarang.

“Evelyn Glamora! Mana se-”

“Evelyn Glamora! Kamu tidak bisa bertunangan dengan anak saya.” suara dari Eric memenuhi ruang ganti tersebut.

Evelyn dan Harsa menoleh. Menatap Eric, Jeffryan, Haekal, Orelyn, dan dokter yang membantu melakukan tes DNA yang berjalan mendekat. Tatapan mereka berdua sangat berbeda. Evelyn yang menatap remeh, dan Harsa yang menatap cemas.

“Kamu bukan anak kandung saya. Jadi pertunangan ini batal. Saya ada buktinya.” Jeffryan mengelurkan selembar amplop hasil tes DNA. Ia menunjukan isi amplop tersebut kepada Evelyn dan Harsa.

“Ya, Pak Jeff benar. Kalian bisa dilaporkan kepolisi karna kasus penipuan.” ujar sang dokter.

Harsa meremas ujung kemejanya, ia menatap takut. Sialnya, bahan ancamannya berada di Evelyn sekarang.

“Kalian mau menjarain saya? Maa, tapi gak bisa.”

“EVELYN!”

“Apa? Saya punya hak disini.”

Evelyn mengambil ponselnya. Ia membuka salah satu file yang berada di ponsel tersebut. Menunjukan isi ponsel tersebut pada kelima orang yang berada didepannya.

“Lihat. Kalian bisa penjarakan Harsa, tetapi tidak bisa penjarakan saya. Karna saya sudah merubah nama perusahaan Pak Jeff atas nama saya. Dan saya telah merubah semua surat-surat dari nama Pak Jeff menjadi nama saya. Dan untuk tuan Eric, jika anda membatalkan perjodohan ini. Saya akan membuat anda kehilangan semua harta dan juga perusahaan anda.”

Ucapan Evelyn membuat mereka berlima bungkam. Haekal mengepalkan tangannya, ia menatap Evelyn dengan sangat tajam.

“LO-”

“Diam, Haekal. Jadi, bagaimana Pak Eric?” Evelyn memerhatikan Eric yang terdiam. Begitupun Haekal dan Orelyn yang menatapnya penuh harap.

Belum ada jawaban yang keluar dari mulut Eric. Hembusan nafas yang kencang terdengar ditelinga mereka. Ia menatap Haekal, putra semata wayangnya.

“Lanjutkan pertunangan.”