Bumi dan Bulan
—
Bulan dan Bumi sama-sama terdiam memandangi langit yang cerah dan penuh bintang. Di lengkapi dengan bulan purnama ditengahnya. Memacarkan kecerahan yang sama dengan bulan yang berada disamping bumi. Cantik.
“Esa.” panggil Bumi membuat Bulan menoleh. Gadis itu menaikan sebelah alisnya seolah bertanya 'apa?' pada Bumi.
Bumi diam sejenak, memperhatikan Bulan yang sudah berubah sekarang. Gadis itu sudah berani memakai riasan wajah untuk keluar, memakai pakaian yang bukan style wanita pada umumnya. Bulannya telah berubah. Tentu karna kesalahannya sendiri.
“Gue...boleh manggil lo Bulan aja? Esa terlalu asing buat gue.” ujar Bumi ragu.
Bumi seharusnya tidak meminta hal macam-macam. Harusnya ia sadar bahwa dirinya sendiri yang membuat semuanya berubah. Terutama Bulan Hireksa.
“Jujur, gue lebih suka dipanggil Esa dibanding Bulan. Lo tau? Rasanya trauma dengan nama itu buat gue enggan dipanggil Bulan sekarang. Tapi lo kakak gue, lo yang bisa gue percaya sekarang. Jadi, lo boleh panggil gue Bulan.” ujar Bulan.
Bumi mengerjap. Antara percaya dan tidak percaya. Apakah Bulan benar telah memercayainya? Apakah Bulan telah benar-benar memafkannya? Ah, bahkan rasanya ini lebih bahagia dibanding mendapatkan motor dan mobil baru.
“Bulan, makasih. Makasih lo udah maafin gue.”
Bumi memeluk Bulannya. Mengucap terima kasih pada semesta yang telah memberikan kesempatan kedua. Membiarkan Bulannya kembali kedalam dekapan sang Bumi. Dan membiarkan mereka membuka lembaran baru yang bisa lebih manis dari sebelumnya.