Bumi, satu-satunya dunia yang Jo miliki.
Suara rintihan dari anak tunggalnya membuat lelaki berkepala empat itu lagi-lagi harus menahan air mata. Joandra, single parent ini harus merawat satu-satunya anggota keluarga yang ia punya sekarang. Bumi Jonandra namanya.
Anaknya yang menurut Jo sangat hebat walau banyak kekurangan. Jagoan yang sangat Jo jaga sejak kecil. Jagoan yang sangat ringkih jika disakiti. Walaupun Bumi tak sekuat anak lain, Bumi tetap jagoan dari seorang Joandra.
Setelah dokter menyuntikan dosis obat yang seharusnya, Bumi dengan perlahan mulai tenang. Tubuhnya mulai merespon dari obat tersebut. Rasa kantuk mulai menyerang anak lelaki yang harus memakai alat bantu dengar setiap saat, agar ia dapat mendengar suara penenangnya. Joandra.
Joandra mengeratkan genggamannya saat melihat Bumi yang sudah tertidur. Lelaki itu terisak kecil, berusaha untuk mengatur suaranya agak Bumi tak bangun kembali.
Sesak. Rasanya sakit sekali walau sudah setiap saat Jo melihat kondisi Bumi. Namun, ia hanya manusia biasa yang memiliki perasaan. Hati Jo akan sangat rapuh jika dihadapkan oleh sang anak.
Tak ada lagi yang Jo harapkan selain mendapat pendonor jantung yang cocok untuk Bumi. Mengharapkan anak lelakinya sembuh agar tetap bisa bersamanya.
Namun, sudah 18 tahun Jo berusaha, tak ada kabar bahwa ia berhasil menemukan pendonor yang cocok untuk anaknya. Satu tahun lagi perkiraan dari sang dokter. Bumi hanya dapat bertahan satu tahun lagi.
Tapi tidak ada yang tau pada akhirnya. Jo hanya berharap kebaikan dari Tuhan datang untik anaknya. Berharap dihari ulang tahun Bumi ia mendapatkan hadiah yang paling berharga.
Jantung baru untuk meneruskan masa depannya.