Cake dan dunia Jo yang hancur.
Sudah terhitung sejak 3 jam lamanya Jo menunggu Bumi yang tak kunjung sadar. Lelaki itu tak henti-hentinya berbicara tentang masa kecil Bumi dan hari perayaan ulang tahun yang selalu mereka adakan. Air mata Jo terus mengalir tak henti. Jo sangat takut jika kehilangan dunianya, Jo sangat takut jika kehilangan kehidupannya.
“Bangun, jagoan. Papa khawatir.” ujar Jo dengan suara yang serak.
Ia terisak kecil. Rasanya tidak kuat jika harus menahan semuanya dalam-dalam. Hatinya telah penuh dengan segala rasa cemas akibat kondisi Bumi yang semakin parah.
Penjelasan dari dokter Chandra terus terngiang dikepala lelaki itu. Dimana kondisi Bumi yang semakin parah dan semakin tidak memungkinkan untuk bertahan. Bahkan hanya ada waktu tiga hari untuk jantung itu bekerja.
Jo memandangi cake yang telah berantakan diatas nakas. Hiasan yang dibuat juga sudah tidak jelas bentuknya. Lelaki itu semakin terisak dengan keras.
“Selamat ulang tahun, jagoan. Maaf Papa gak bisa jaga kuenya. Maaf ya? Nanti Papa beli lagi, tapi jagoan harus bangun dulu.” ujar Jo disela isakannya.
Dengan perlahan, tangisan Jo semakin mereda. Lelaki itu terdiam sejenak. Memutar otak untuk mencari cara agar anaknya sembuh dari kesengsaraan.
“Jantung saya cocok dengan Bumi.” gumam lelaki itu.
Jo tersadar dari diamnya setelah ia memikirkan semuanya. Ia mengangkat tangannya untuk mengusap rambut Bumi yang sangat lepek karna sudah lama tak dicuci kembali.
“Jagoan, Papa bakalan kasih kehidupan Papa buat kamu. Cepat sembuh ya? Maaf Papa gak bisa nemenin jagoan.”