Cemburu

Lorong kelas 10 MIPA terlihat begitu ramai dengan banyaknya siswa siswi yang berbondong-bondong untuk ke kantin, mengisi perut mereka yang kosong sejak pagi tadi. Sedangkan Gracilla harus dengan terpaksanya mengantarkan Galaxy dan Marvin untuk mengelilingi sekolah.

Sesungguhnya gadis itu terlalu malas untuk mengantarkan mereka, terlebih lagi Gracilla yang masih malu karena tragedi tembus yang dilihat oleh Marvin. Untungnya gadis itu memiliki rok putih cadangan pada loker sekolahnya.

“Ini namanya UKS, buat anak-anak yang sakit. Di Amerika atau Netherlands ada UKS gak?” tanya Gracilla sembari menaikan sebelah alisnya, menatap dua lelaki yang berada dibelakangnya. Tak ada jawaban karena keduanya sibuk memperhatikan sekitar.

Gadis itu berdecak ketika tidak mendapatkan respon apapun dari Marvin ataupun Galaxy. Ia memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju lantai dua, menaiki tangga satu persatu hingga pada belokan menuju tangga kelas 12 ia dikejutkan oleh William yang tiba-tiba saja berada dihadapannya.

“Makan dulu.” ujar lelaki itu dengan wajah yang datar, seperti biasanya.

“Nanti, gue masih ngurusin dua cowok ini.”

“Mereka bukan anak kamu, kenapa diurusin?”

“Gue disuruh Bu Dian.”

“Yaudah, saya ikut.”

Baru saja Gracilla ingin membalas perkataan lelaki itu, namun William lebih dulu menaiki tangga menuju lantai 3.

“Pacar lo, Cil?” tanya Marvin berbisik pelan, terlihat seperti penasaran dengan lelaki yang ia sebut 'muka datar.'

“Gebetan gue.”

“Ohh.”

Tak ada obrolan random kembali setelah mereka berada dilantai 3. Gracilla sibuk memberitau beberapa ruangan yang mungkin akan sering Marvin dan Galaxy kunjungi. Sedangkan William menatap kedua lelaki itu dengan sangat tajam, seolah singa yang akan memakan mangsanya.

“Terakhir, ini perpustakaan. Gue gak tau didalem ada apa aja, soalnya gue jarang ke perpustakaan. Coba lo tanya sama cowok dibelakang lo berdua.” Gracilla menunjuk William dengan dagunya.

“Gue gak pengen tau. Oh iya, jaket gue jangan lupa dibalikin kalo perlu dicuci. Ayo, Gal.” Marvin langsung pergi setelah ia merasa cukup untuk perkenalan lingkungan sekolahnya. Tidak ingin berlama-lama karena ia sudah merasakan kelaparan sejak tadi.

William mendekati Gracilla dengan wajah dinginnya. Lelaki itu terlihat seperti menahan amarah yang menggebu-gebu didalam dadanya.

“Jaket apa?” tanya William, wajah datarnya tak dapat menakutkan Gracilla yang sudah terbiasa.

“Ya...jaket. Dia minjemin jaket ke gue gara-gara tadi gue tembus.” gadis itu berujar sembari menuruni anak tangga dengan perlahan, diikuti oleh William dibelakangnya.

“Besok kasih jaketnya ke saya, biar saya yang cuci. Kalau kamu nolak saya bakalan hajar cowok Netherlands itu habis-habisan karena udah kasih sesuatu ke kamu.”

Gracilla dengan reflek memberhentikan langkahnya, gadis itu baru saja ingin menoleh kebelakang namun William lebih dulu menuruni anak tangga hingga berada dilantai 2. Gadis itu terdiam sejenak untuk mencerna kalimat yang William berikan. Berusaha memahami maksud dari tujuan William barusan.

“Ini Liam cemburu ceritanya? Kok posesif banget?”