Cuddle in car.

Mobil hitam yang sudah dibasahi hujan berhenti diparkiran minimarket tempat Almara berteduh. Almara sangat tau mobil hitam yang terparkir itu. Itu adalah mobil kesayangan Darma.

Darma turun dari mobil dengan payung yang berada diatas kepalanya. Dengan sedikit berlari, Darma mendekati istrinya yang berdiri sambil memegangi koper, dengan tas kecil yang berada di bahunya.

“Al.” panggil Darma setelah lelaki itu menaruh payung disamping dirinya.

Almara membuang mukanya, air matanya kembali jatuh saat ia mengingat kembali ucapan Darma yang menyakitkan. Dan sekarang Darma berdiri dihadapannya seperti tak ada apa-apa.

“Al, gue minta maaf. Gue gak amnesia, semua itu cuman pura-pura. Ayo masuk mobil, gue jelasin semuanya.” Darma ingin mengambil koper itu, namun dengan cepat Almara menarik kopernya hingga berada dibelakang perempuan itu.

“Dar, lo gila ya? Pura-pura amnesia apa emang mau nyakitin gue? Pura-pura amnesia apa emang lo masih suka sama Aruni?” tanya Almara dengan suara bergetar.

Darma menghembuskan nafas panjang. Ia memeluk istrinya dengan perlahan, kali ini tidak ada penolakan. Tangis Almara kembali pecah, gadis itu mengeratkan pelukannya. Rasanya masih hangat. Seperti saat ia dan Darma berpelukan di Prancis.

“Maaf ya? Ayo masuk dulu, gue jelasin semuanya.”

Darma mengambil payungnya kembali, ia menuntun Almara untuk memasuki mobilnya. Memberi selimut kecil yang selalu ia simpan di belakang mobil.

“Pake ya. Biar kamu sama anak aku gak kedinginan.” ujar Darma sambil tersenyum.

Lelaki itu langsung melajukan mobilnya. Tangan kirinya sedari tadi terus menggenggam tangan Almara. Memberi kehangatan pada perempuan tercintanya.

“Laper, aku belum makan.” ujar Almara dengan suara pelan.

Darma tak menjawab apapun, namun laki-laki itu langsung menancapkan gas ke pedagang kaki lima.

Darma menarik Almara untuk memeluknya. Saat ini mereka berdua sedang menunggu pesanan sate ayam mereka. Sembari menunggu, rencananya Darma akan menjelaskan semuanya.

“Gue jelasin pelan-pelan ya.” ujar Darma. Almara hanya mengangguk, ia mengeratkan pelukannya karna ingin mendapat kehangatan yang lebih.

“Waktu kecelakaan, sebelum Aruni liat kondisi gue, gue denger dia lagi telfonan sama seseorang. Dia bahas rencana yang mau gue amnesia. Yaudah gue pura-pura Amnesia karna mau lancarin rencana gue yang lain”

“Papa Aruni itu korupsi uang perusahaan bokap gue, Al. Sebenernya udah tau lama, cuman masih nyari bukti-bukti aja. Gue Amnesia biar nanti pas hari pernikahan, gue bakal nyelundup kerumahnya. Nyari dokumen dan rekening pribadi punya bokapnya Aruni. Abis itu gue bakalan laporin kejahatan Aruni serta Papanya. Dia juga ada rencana mau gugurin anak kita, Al.”

“Tapi lo tenang aja, gue bakalan selalu jagain lo. Tapi untuk sementara ini kita gak tinggal bareng dulu ya? Supaya Aruni gak curiga.”

“Kenapa lo gak bilang dari awal?”

“Al, kalo gue tau dari awal pasti Aruni bakalan curiga karna lo tenang-tenang aja.”

Darma mengusap rambut Almara dengan lembut. Almara terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ia tanyakan lagi kepada Darma.

“Oh iya. Yang soal di chat itu, lo beneran suka sama gue dari SMA?”

Pertanyaan Almara berhasil menbuat Darma terdiam. Ia bingung harus menjawab apa dan tentunya Darma sangat malu dengan pengakuannya di chat tadi.

“Eh, Al. Satenya udah jadi.”

Darma mengalihkan pembicaraannya. Membuat Almara berdecak kesal.

“Gue suapin ya? Lo gak boleh capek-capek. Kasian dede bayinya.”

“Cuman makan doang, Dar?! Masa gak boleh?!”

“Gak.”

Darma mengambil satu suap nasi beserta daging yang sudah dipisahkan dari tusuk satenya. Ia menyuapi Almara dengan perlahan, takut istrinya tersedak jika ia menyuapi dengan kasar.

Sejujurnya Darma sangat menyayangi Almara lebih dari apapun. Tetapi Darma sangat sulit mengucapkannya lewat kata-kata. Darma lebih suka bertindak dari pada berucap.

Karna menurut Darma, yang dibutuhkan wanita bukanlah omongan. Tetapi tindakan dan bukti nyata.