Datang.

Jeffryan, lelaki dengan setelan jas rapih itu berjalan layaknya orang yang tergesa. Ia mencari lorong menuju ruang rawat anaknya, ingin bertemu karna dan memberanikan diri untuk meneruni egonya. Kata Darwin, rasanya tak akan sesakit seperti yang dulu.

Langkahnya membawa tubuh itu menuju lorong sebelah kanan. Matanya mengedar kekanan dan kekiri, mencari ruangan VIP milik Satya. Hingga Jeffryan berhasil menemukan ruangan milik Satya, ia langsung memberhentikan langkahnya.

Jeffryan menarik nafasnya dalam-dalam. Ingin membuka pintunya namun ia urungkan saat melihat Satya dari jendela kecil yang berada di pintu. Satya sudah bangun, dan anaknya sedang tertawa dengan beberapa lelaki sebayanya.

“Udah bangun ternyata.” gumam Jeffryan.

Ia memundurkan langkahnya saat melihat Satya menoleh kearah pintu. Dengan cepat lelaki itu berjalan meninggalkan lorong ruangan Satya.

“Rasanya gak sama. Tapi dia berhasil bikin gue inget sama masa lalu gue.” gumam Jeffryan saat ia berhasil mencapai mobilnya.

“Maaf. Papa belum siap, Satya.”