Dendamnya Alingga.
Setelah proses pemakaman selesai, Alingga lebih memilih diam dikamarnya bersama Griya dan Rachel. Sedari tadi tangannya terus memeluk foto sang Ibunda yang telah di antar ke peristirahatan terakhirnya.
“Alin, mau main make up-make up an lagi gak? Jangan sedih terus.” ujar Rachel sambil memeluk Alingga.
Gadis itu memaksakan senyumannya, ia menggeleng. Matanya memilih untuk melihat kearah dinding dengan tatapan yang kosong.
“Makan dulu yuk? Gue yang buatin makanannya. Kata lo masakan gue enak. Ayo makan.” kali ini Griya yang berucap. Gadis itu mengusap bahu Alingga dengan perlahan. Namun tawaran dari Griya hanya angin semata untuk Alingga.
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Griya dan Rachel. Wajah kedua gadis itu berubah datar setelah melihat siapa yang memasuki kamar Alingga tanpa permisi.
“Ngapain lo kesini?!”
“Lo gak tau malu banget ya, jalang?”
Ketus kedua gadis itu. Tasya, perempuan itu menelan salivanya dengan kasar. Rasa takutnya langsung bergejolak. Namun rasa bersalahnya tak dapat dikalahkan.
“Gue... gue mau minta maaf sama Alingga. Gue salah, harusnya gue gak bilang kalau gue liat Langit malam itu. Harusnya gue gak turutin kemauan Langit untuk minum. Gue minta maaf, Alin.” ujar Tasya dengan suara bergetar.
Alingga menoleh, tatapan kosongnya kini berubah menjadi tatapan tajam. Gadis itu berdiri, melempar bingkai foto keatas kasur. Langkahnya dengan cepat mendekati Tasya.
Plakk-!!
“Tamparan pertama karna keluarga lo bahagia!”
Plak-!
“Tamparan kedua karna lo udah rebut Langit dari gue! KELUARGA SIALAN! BRENGSEK! JALANG LO BAJINGAN!”
Teriakan Alingga dapat terdengar hingga lantai bawah. Langit dan Angkasa langsung terburu-buru berlari kelantai dua, menuju kamar Alingga yang terbuka dengan Tasya yang berdiri sembari menunduk, memegang kedua pipinya yang memerah karna ditampar dengan kencang.
“Alingga, tenang.” Angkasa langsung memeluk Alingga dengan erat.
Namun, lagi-lagi emosi gadis itu meluap saat ia melihat Langit yang berada dihadapannya. Gadis itu berontak. Ia ingin mencabik-cabik wajah Langit saat itu juga.
“LEPASIN, SA! GUE MAU HAJAR BAJINGAN ITU! GUE MAU BUNUH DIA, ANGKASA! LEPASIN GUE!” teriak Alingga dengan frustasi.
Gadis itu kembali menangis saat ia tak berhasil melepaskan pelukan Angkasa. Alingga terisak dengan keras. Tubuhnya kembali lemah karna semua masalahnya bercampur menjadi satu didalam fikirannya.
“Angkasa, kepala gue sakit...” lirih gadis itu.
Dan tak lama Alingga tak sadarkan diri. Alingga limbung ditengah dukanya. Alingga rapuh ditengah masalahnya. Semuanya terlalu berat untuk Alingga.
Dan sekarang, yang difikiran Alingga hanya ada Bunda dan Ayahnya. Alingga ingin menyusul kedua orang tuanya.