Dia kembali pergi dengan ketenangan.

Tangisan yang terdengar sejak satu jam yang lalu perlahan mehilang, digantikan dengan tatapan kosong gadis yang berada dipelukan Tama.

“Aletta, tenang ya?” tangan Tama mengusap rambut Kara dengan perlahan. Berusaha menenangkan gadis yang bersandar dibahunya.

“Tama, saya gak mau Jevan pergi. Kenapa takdir saya jahat, Tama? Kenapa takdir saya selalu memisahkan saya dengan Jevan? Saya ingin berkata 'ya' kembali. Saya ingin menerima Jevan kembali. Tapi mengapa Jevan terpejam sebelum saya berkata 'ya'? Kenapa, Tama?”

Cercaan pertanyaan dari Kara tak mampu Tama menjawabnya. Lelaki itu bukan Tuhan, ia hanya makhluk yang diciptakan dengan Tuhan yang sama dengan Kara.

Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian gadis itu. Kara berdiri, menghampiri dokter yang sarung tangannya berulumuran darah.

“Dokter, gimana keadaan Jevan? Dia baik-baik aja kan?” tanya Kara dengan penuh harap. Tama merangkul gadis itu, bersiap untuk menumpu jika Kara menerima kabar buruk.

Dokter yang melihatnya merasa tak tega, namun ia juga harus menyampaikan hal yang penting.

“Maaf. Pasien atas nama Jevan tidak bisa kami selamatkan. Pasien meninggal sebelum sampai dirumah sakit.”

Ucapan dokter membuat kaki Kara berubah lemas. Gadis itu perlahan terjatuh namun ditahan oleh Tama.

Pikirannya berubah kosong. Kepergian Jevan untuk kedua kali adalah suatu takdir yang tidak Kara harpakan. Ditinggalkan Jevan bukanlah kemauannya. Dan perpisahan dengan Jevan bukanlah keinginannya.