Dinginnya Atma Bagaskara.
Pagi itu, Anindhita sedang menyiapkan sarapan pagi untuk Atma. Menyiapkan selembar roti yang telah di beri selai serta kopi hitam kesukaan Atma.
Tak seperti pagi sebelumnya. Pagi kali ini Atma telah menghilangkan sifat hangatnya. Mendiami Anindhita yang sibuk mencuci beberapa piring kotor yang telah di gunakan. Tak ada sapaan selamat pagi yang biasa Atma ucapkan. Atma benar-benar telah berubah.
Suara gesekan antara kursi dan lantai mengalihkan perhatian Anindhita. Gadis itu menoleh, menatap suaminya yang telah pergi tanpa berpamitan seperti biasa. Hati Anin langsung mencolos ketika mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras.
Sejujurnya, Anindhita bukan tidak mencintai Atma. Namun, gadis itu tidak mau Atma merasakan kesedihan jika harus hidup bersama dirinya.
Gadis yang hidup tanpa bisa memiliki keturunan untuk selamanya.