Disini pertahanan Kara telah runtuh.
Suara isakan Kara terdengar dengan sangat kecil dan sesak. Gadis itu menangis didalam kamarnya sambil memperhatikan twittan Jevan tentang Gracia. Kara tau itu menyakitkan, namun gadis itu tetap membacanya hingga bawah.
Ponselnya terus saja bergetar karna Jevan terus mengirim pesan dan menelponnya. Namun Kara tidak menjawab, rasanya hanya membaca nama Jevan saja sudah berhasil membuat hatinya tergores lebih banyak.
Secara tiba-tiba pintu kamar Kara dibuka oleh seseorang, membuat Kara langsung menghapus air matanya dan menoleh kearah pintu.
“Kenapa, teh?” tanya Kara berusaha menstabilkan suaranya.
“Ada pacar kamu diluar. Temuin gih. Kasian kedinginan kayaknya.” ujar teman Kara.
Kara terdiam. Hatinya tidak siap untuk melihat wajah sang pemberi luka. Namun mau tidak mau Kara harus menemui Jevan untuk membicarakan semuanya.
—
Sejak tadi Jevan menatap bersalah kearah Kara yang matanya terlihat sembab dan bengkak. Sangat terlihat jelas gadis itu sedang tidak baik-baik saja.
“Ra-”
“Kita udah gak ada apa-apa, Jev. Gue harap lo paham.” ucap Kara memutuskan omongan Jevan.
Jevan terdiam. Hatinya terasa sakit saat Kara berucap dengan serius tentang berakhirnya hubungan mereka. Jevan ingin mendekati Kara, namun gadis itu langsung mundur seolah Jevan adalah makhluk yang akan memakannya.
“Jev, cukup.” suara Kara terdengan gemetar, menahan takut karna adanya Jevan didekatnya.
“Kara, aku min-”
“Aku kira dua tahun itu waktu yang cukup buat kamu lupain Cia. Ternyata semua harapan aku terlalu tinggi, Jev.” Kara terisak kecil, gadis itu menunduk sambil memukul dadanya yang terasa sesak.
“Dua tahun, Jev. DUA TAHUN JEVAN! DUA TAHUN AKU BERHARAP BISA BAHAGIAIN KAMU! DUA TAHUN AKU BERHARAP HUBUNGAN INI BERTAHAN DENGAN LEBIH LAMA! DUA TAHUN AKU MAKAN HATI KARNA KAMU TERUS-TERUSAN PRIORITASIN CIA! DUA TAHUN RASA SAYANG AKU SEDALAM INI, JEV!”
Emosi Kara meluap dengan cepat. Nafas gadis itu semakin memburu, isakannya semakin keras. Bahkan pukulan di dadanya tetap ia lakukan.
“Jevan, menjauh. Aku capek. Aku capek selalu begini. Aku mohon, Jevan.”
“Jevan, aku selalu sakit hati. Aku selalu berharap ini itu. Jangan buat aku berharap lagi, aku mohon. Aku sakit Jevan. Perasaan aku sakit, hati aku sakit. Aku mohon sama kamu.”
Kara menunduk, gadis itu terisak dengan keras membuat hati Jevan terasa sakit. Jevan merasa bersalah, ia merasa sangat bodoh. Jevan merasa dirinya sangat tidak layak untuk di cintai siapapun.
Dengan perlahan, gadis itu mundur. Menjauhi Jevan layaknya monster yang akan menerkam. Lalu menutup pintu utama dengan sangat keras.
Kara membiarkan Jevan datang tanpa memberikan sebuah penjelasan. Kara membiarkan Jevan berdiri tanpa mengucapkan kata maaf.
Jevan sadar, lelaki itu telah memberikan luka yang mendalam untuk Kara. Jevan sadar bahwa ia tak pantas untuk mendapatkan cinta yang tulus.
Karna Jevan yakin, ia adalah manusia pemberi luka yang sesungguhnya.