Ditinggalkan bersama kecemasan.

Suasana ramai oleh keluarga Gema dan Kania di lobby bandara Halim Perdanakusuma tidak membuat mereka mengurangi kesedihan. Gema sejak tadi sudah mengucapkan kalimat perpisahan kepada kedua orang tuanya. Dan sekarang lelaki itu terus menggenggam tangan Athaya dengan sangat erat. Bahkan berkali-kali Gema terus mencium punggung tangan gadis itu.

Kania yang melihatnya tentu saja panas. Namun, gadis itu berusaha untuk tenang demi kelancaran rencananya.

“Rasanya aku gak mau tinggalin cantiknya aku disini sendirian. Aku takut kamu diambil orang lain.” ujar Gema dengan sangat lembut.

Athaya tersenyum tipis, gadis itu telah kehilangan moodnya sebab keberangkatan Gema hari ini. Dan tentunya karna keluarga Kania yang berada satu pesawat dengan Gema.

“Tha, jangan sedih dong. Kan kita udah janji buat gak sedih. Lagian kalau kamu gak bisa kesana, aku yang bakalan kesini.” Gema menarik Athaya kedalam dekapannya saat melihat wajah murung gadisnya.

Sejujurnya Gema tidak tega meninggalkan Athaya. Namun mau tak mau, suka tak suka Gema harus tetap berangkat ke Amsterdam. Harus mengejar cita-cita yang sudah dari kecil Gema impikan.

“Kak, janji ya sama aku. Jangan rusak kepercayaan aku. Kalau kamu khawatir aku diambil orang lain, kamu bisa tanya Kak Aldrick. Tapi kalau kamu diambil orang lain, siapa orang yang harus aku tanya, Kak?” lirih gadis itu. Matanya kembali berair, ingin mengeluarkan kristal bening yang masih tersisa.

“Lo bisa tanya sama gue, Tha.” ujar Kania dengan senyuman. Athaya menoleh, menatap Kania dengan senyum tipis lalu mengangguk.

“Makasih Kak.”

“Sama-sama.”

“Karna gue yang bakalan ambil Gema dari lo, Athaya.” batin Kania diakhiri senyuman palsu pada balasannya untuk Athaya.