'Dunia saya itu bukan Papa!'
Langkah kaki seorang laki-laki dengan beratnya berjalan memasuki rumah. Lelaki berkepala empat itu memijat pilipisnya yang terasa sangat pening. Kerjaan dikantor yang menumpuk membuat dirinya harus pulang telat dalam beberapa hari.
Jeffryan atau yang kerap disapa Iyan kembali berjalan menduduki sofa yang berada diruang tengah. Iyan menghela nafas pelan, pikirannya kembali berkecamuk tentang pekerjaan serta anak semata wayangnya.
Mata lelaki itu melihat sekitar. Mencari keberadaan jagoan yang tidak pernah menganggap dirinya ada.
“Jian? Sudah pulang?” teriak lelaki itu. Langkahnya dengan perlahan mencari Jian keseluruh ruangan. Berharap anak lelakinya telah pulang dengan selamat.
Langkahnya terhenti di pintu yang tersambung dengan halaman belakang rumahnya. Disana, dia dapat melihat Jian dari belakang. Anaknya sedang menghisap batang rokok sambil duduk dan menatap langit yang mendung.
Perlahan, Iyan mendekatkan dirinya. Lebih tepatnya memberanikan diri untuk berinteraksi dengan Jian yang selalu menolak keberadaannya.
“Jian? Sudah makan?” tanya Iyan membuat Jian tersentak kaget.
Jian menoleh kebelakang, dengan spontan lelaki itu mendengus tak suka. Malamnya terasa buruk jika ia melihat Iyan dihadapannya.
“Apa perduli papa? Saya sudah makan atau belum itu bukan urusan papa.” ujar lelaki itu dengan sangat ketus.
Iyan tersenyum tipis. Sangat memaklumkan sifat Jian yang berubah 360° sejak umur 14 tahun. Dan sekarang, lelaki itu sudah berumur 18 tahun.
“Kalau belum makan, cepat makan. Kalau sudah makan, jangan begadang. Jangan terlalu sering merokok, Jian. Kalau kamu sakit, papa sedih. Kamu itu satu-satunya du-”
“Apa? Mau bilang saya itu dunia Papa? Cukup, Pa. Karna dunia saya itu bukan Papa!” Jian menggertak dengan nada rendah. Rahang lelaki itu mengeras, merasa muak dengan kalimat yang selalu keluar dari mulut Iyan.
Jeffryan menghela nafas berat setelah Jian meninggalkannya dengan penuh emosi. Lelaki itu duduk dengan perlahan pada kursi yang ditempatkan Jian sebelumnya. Menatap langit yang mulai mengeluarkan rintik-rintik kecil dari hujan.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera yang berada dilayar utama. Mengarahkan kamera belakang ke langit yang kehilangan bintangnya.
Jeffryan tersenyum. Ia kembali menyimpan ponsel tersebut dan memfokuskan pandangannya kearah langit.
“Kiara, maaf. Lagi-lagi aku cuman bisa foto langit tanpa adanya wajah kamu. Kamu sama Jean baik-baik kan disana? Doa baik selalu aku beri untuk kamu dan Jean.”