Elena takut.
—
Akala, Maura dan Elena hanya terdiam di teras rumah Elena. Akala sempat membentak Elena tadi. Hingga Maura datang, berusaha menenangkan Akala dan melindungi Elena.
Atmosfer ketiganya sangat canggung sekarang. Akala yang sedang mengontrol emosinya, Elena yang menatap kosong ke lantai dan Maura yang sedang memeluk Elena.
Kata-kata kasar dan juga tuduhan-tuduhan Akala terus terngiang di fikiran Elena. Seperti radio rusak yang tidak bisa di benarkan.
“Jujur sama aku! Kamu selingkuh sama Rico?!”
“Kamu pacar aku, Elena! Tapi kenapa kamu gampang banget terima cowo lain kerumah kamu?!”
“Jangan jadi wanita yang gak ada harga dirinya!”
Elena kecewa, Elena takut, Elena marah. Tapi, lagi-lagi gadis itu harus memilih opsi diam di bandingkan melawan.
“Elena...” Maura menggenggam tangan Elena. Menyalurkan kekuatan walau hanya sebuah drama.
“Akala, minta maaf sama Elena.”
Maura menoleh ke Akala. Lelaki itu menghela nafas kasar lalu berdiri, ia melangkah kehadapan Elena dan mensejajarkan tingginya dengan Elena.
“Maaf.” tangan Akala terulur untuk menggenggam tangan gadisnya, namun dengan cepat Elena menjauhkan tangannya.
“Pulang.” ujar gadis itu dengan suara bergetar. Ia takut. Elena sudah terlalu takut dengan Akala.
“Ele—”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Elena berdiri lebih dulu. Gadis itu langsung berlari masuk dan mengunci pintu.
Akala menatap bersalah. Ia sudah keterlaluan kepada Elena. Seharusnya ia tidak menuduh dan bersikap kasar seperti tadi. Akala sangat ceroboh untuk mengontrol emosinya.
Sedangkan Maura, gadis itu menyeringai samar karna rencananya dengan Rico telah berhasil.
©dya300321