Emosi Reon.

Setelah mendapati video dari bundanya tersebut, Reon mencengkram ponselnya dengan kuat. Ia menoleh pada Jean yang sedang duduk disamping Orelyn dengan santai. Mata sipit itu berubah tajam saat mengingat video tersebut.

Dengan gerakan yang sangat cepat, Reon menarik kerah baju Jean. Bugh-! Lelaki itu langsung memukul rahang Jean dengan keras hingga terjatuh. Nafasnya memburu, menatap Jean dengan tatapan yang sangat mematikan.

“SINI LO ANJING!” Reon kembali menarik kerah Jean, kembali memukul lelaki itu dengan keras.

“Reon! Lo apa-apaan sih?! Kenapa mukul Jean?!” Orelyn menarik lengan Reon sehingga lelaki itu menjauh dari Jean. Gadis itu mendekati Jean, membantu Jean yang sedang meringis untuk bangun dari jatuhnya. Menatap hidung dan bibir Jean yang sudah keluar darah.

“JANGAN BELAIN DIA, ORELYN!”

“LO YANG KENAPA BANGSAT?!”

Nafas Orelyn ikut memburu. Gadis itu menatap Reon dengan tajam. Bukan niat membela, tetapi ia tak mengerti mengapa Reon menghajar Jean secara tiba-tiba.

“Lo mau tau gue kenapa? Karna gue tau siapa yang nabrak Evelyn! Itu Jean sendiri, Rel! Dan dengan brengseknya dia gak mau ngaku! Dia pura-pura bantu kita buat cari bukti! Kalau lo gak percaya, gue punya videonya.” Reon mengambil ponselnya dengan cepat. Jari itu dengan cekatan mengotak-atik ponsel tersebuh hingga suara notifikasi dari ponsel Orelyn terdengar.

“Liat! Si bajingan ini yang udah nuduh Jemian! Bangsat!”

Jean hanya terdiam di tempatnya. Lelaki itu menunduk sambil memegang bibirnya yang luka. Merasa di pergoki secara tiba-tiba dan sangat memalukan.

Sedangkan Orelyn terdiam setelah melihat video tersebut. Mata gadis itu berair, kecewa dengan sahabatnya yang ternyata menutupi kesalahan dan membiarkan Jemian menanggung semuanya.

Bugh-!

Lagi, Reon kembali memukul Jean dengan keras. Bahkan pukulan kali ini, bertubi-tubi tanpa henti. Tak ada lagi pembelaan dari Orelyn, gadis itu telah kepalang kecewa. Tak ingin lagi membela yang salah.

“Reon! Lo kenapa anjing?” Haekal dan Jemian yang baru saja datang langsung menarik Reon yang tidak hentinya menghajar Jean.

Jemian mendekati Jean yang sudah terbaring tak berdaya dengan luka wajahnya. Sedangkan Haekal menahan Reon yang masih berada di ambang emosi.

“Lo kenapa, anjir? Kenapa ngehajar Jean? Kalo ada masalah omongin baik-baik! Jangan kayak gini!” Ujar Haekal berusaha setenang mungkin.

Reon menepis dengan kasar tangan Haekal yang memegang lengannya. Ia membenarkan jaketnya yang berantakan. Tatapan tajam itu belum menghilang sampai sekarang.

“Tanya sendiri sama si brengsek.” Ujarnya dengan tajam dan langsung berlalu pergi meninggalkan ke-empat temannya.

Haekal menoleh kearah Orelyn, mendekati kekasihnya yang hanya terdiam di tempat. “Sayang, ada apa?” Tanya Haekal dengan sangat lembut.

Orelyn menggeleng, gadis itu lebih memilih untuk pergi dan menangis di tempat lain. Tempat sepi yang tidak ada siapa-siapa. Orelyn hanya butuh kesendirian untuk menenangkan dirinya.

Haekal menghela nafas pelan, ia mendekati Jean yang sudah tidak sadarkan diri, membantu Jemian untuk mengangkat Jean ke kursi besi yang ada didepan ruangan Evelyn.

“Lo tunggu sini. Biar gue yang minta brankar dulu.” Ujar Haekal.

Jemian mengangguk patuh. Menatap khawatir ke temannya yang sudah tidak sadarkan diri.

“Reon kenapa sebenernya?”