Fitnah

“Perhatian untuk anak kelas 10 hingga kelas 12, harap segera kelapangan semuanya. Kepala Yayasan datang untuk memperkenalkan diri kepada kalian. Ke lapangan dalam waktu 10 menit.”

Suara yang datang dari speaker mengalihkan pandangan Athaya dari buku tulis. Gadis itu tersenyum tipis, dengan buru-buru ia membereskan peralatan tulisnya.

“Ck, malu gue satu kelas sama anak pelakor.”

“Kasian banget. Pasti kepala yayasan malu deh ada anak pelakor disekolah ini.”

“Kok Athaya enggak di DO aja ya?”

Suara yang sengaja di keraskan membuat senyuman tipis Athaya berumah menjadi smirk yang tak terlihat. Gadis itu tak menanggapi apapun, ia langsung berjalan keluar kelas munju lapangan yang tepat berada didepan kelasnya.

Sudah 15 menit berlalu. Kata pengantar serta ucapan kepala sekolah telah mereka dengar dengan hati yang tak suka. Bosan dan panas membuat banyak murid yang mengeluh karna teriknya matahari.

Hingga akhirnya pemilik Yayasan berdiri didepan mereka. Mengambil microphone yang diberikan kepala sekolah. Melirik semua murid yang berdiri dengan sedikit berantakan.

“Selamat siang semuanya. Maaf mengganggu pelajaran terakhir kalian. Pertama saya akan mengenalkan diri saya sendiri. Mungkin untuk kelas 10 tidak mengenal saya. Nama saya adalah Jerian Arthares. Saya selaku pemilik Yayasan dari SMA Garuda.”

Semua murid diam mendengarkan. Beberapa ada yang menatap kagum sebab paras dari pemilik Yayasan yang hampir mencapai kata sempurna.

“Mungkin kalian bingung mengapa saya datang secara mendadak. Bahkan semua guru menatap bingung saat saya datang beberapa menit yang lalu. Jadi kemarin saya mendengar bahwa ada salah satu murid yang dirundung disini akibat kesalahan orang tuanya. Banyak yang mengirimkan kalimat kasar kepada murid tersebut.”

Perlahan suara berbisik mulai terdengar. Sedangkan Shanneth menatap tenang kedepan. Merasa dirinya akan selamat karna sudah membully Athaya.

“Namanya Athaya Gisellia. Keponakan saya yang telah kalian rundung beberapa hari yang lalu.”

Deg-!

Jantung Shanneth terhenti seketika. Mata gadis itu menatap terkejut. Merasa tak percaya jika Athaya adalah keponakan dari pemilik Yayasan SMA Garuda.

“Keponakan saya telah dirundung karna fitnah yang disebarkan oleh Shanneth kelas 12. Terjadi kesalah pahaman disini tentunya. Adik saya, ibu dari Athaya tak pernah merusak hubungan rumah tangga siapapun. Dan lelaki yang dimaksud oleh thread yang tersebar adalah saya.”

“Saat itu saya menikah dengan perempuan yang telah memiliki satu anak. Pada malam itu saya dan istri saya bertengkar hebat ketika adik saya serta Athaya datang. Mereka berusaha melerai saya dan mantan istri saya. Dan akhirnya banyak yang menonton kami. Saya serta adik saya akhirnya pergi dari rumah itu. Meninggalkan mantan istri saya dan anaknya serta lebih memilih untuk bercerai karna mereka hanya memanfaatkan harta saya.”

“Dan entah bagaimana, kejadian beberapa tahun lalu tersebut tersebar hingga disekolah ini. Dan menuduh adik saya itu pelakor.”

Ujar Jerian membuat banyaknya murid-murid langsung berbisik-bisik. Shanneth yang dibelakang hanya menatapnya dengan takut. Gadis itu memperhatikan Athaya yang berdiri dengan tenang dan Acha yang berdiri dibelakang Athaya.

“Saya ingin kejujuran dari kalian semua. Ada yang tau siapa yang membuat thread fitnahan tersebut?” tanya Jerian.

Shannet mengepalkan tangannya yang berkeringat, dengan perlahan ia mengangkat tangannya keatas.

“Ya? Shanneth? Kamu yang membuat thread tuduhan tersebut?”

“Bukan saya, Pak. Tapi Acha temannya Athaya.”

Gaduh. Benar-benar gaduh pada lapangan utama sekolah SMA Garuda. Acha, perempuan itu menoleh kearah Shanneth dengan tatapan bingung. Langkahnya langsung menghampiri Shanneth dengan cepat.

“Maksud lo apaan?! Sejak kapan gue bikin thread itu?! Jangan fitnah!” ujar Acha dengan emosi yang meluap.

Shanneth menaikan alisnya, ia berdecih dengan pelan. “Fitnah lo bilang? Jelas-jelas lo yang kerjasama sama gue! Gue ada bukti chatnya!”

Gema, lelaki itu hanya melihat keributan dari ujung barisan. Merasa marah dengan adiknya karna berani mengkhianati Athaya.

“APAAN SIH LO ANJING?! GUE GAK PERNAH BIKIN THREAD ITU!”

Dan akhirnya terjadi keributan antara Shanneth dan Acha. Serangan-serangan terus mereka berdua berikan. Membuat beberapa guru berusaha melerai pertikaian yang sangat susah untuk dilerai.

Athaya ikut berusaha memisahkan keributan. Gadis itu menarik Acha hingga menjauh dari Shanneth yang sudah berantakan. Sama halnya dengan Acha.

“Cha, udah!”

“Gimana mau udah?! Dia fitnah gue anjing!”

Emosi Acha telah pecah sejak tadi. Membuat gadis itu kehilangan kendali atas dirinya. Acha marah, Acha tak terima jika di fitnah dengan sesuatu yang tidak ia lakukan sama sekali.

Sedangkan Kania, gadis itu berdiri dengan tenang dengan smirk yang terpampang dengan jelas.

“Mission complete.”