Gadis dengan seribu pelindung
—
Lonceng caffe yang menggema membuat seluruh pengunjung tersebut menoleh, termasuk Naura. Banyak pelanggan yang mengeluarkan Handphonenya dan ingin berfoto serta meminta tanda tangan sang gadis murah dengan senyuman itu.
Siapa yang tidak mengenal Ayyara Kahusein? Gadis yang dirumorkan belum lulus SMA dan sudah memiliki kesuksesan dengan hasil karyanya yang luar biasa membuat banyak orang bangga terhadapnya. Terkecuali Naura Kahusein.
Iri, dengki, marah menjadi satu pada perasaan gadis itu. Ia tak terima jika Ayyara bahagia. Rasanya gadis itu ingin membunuh Ayyara sekarang juga.
Ayyara melirik Naura sekilas, gadis itu lebih memilih merespon orang yang tidak dikenal untuk berfoto atau mengobrol sejenak. Membuat Naura kesal karna harus menunggu lebih lama.
Setelah hampir tiga puluh menit, Ayyara baru menghampiri Naura. Menaruh tas mahalnya diatas meja lalu duduk dihadapan Kakak tirinya.
Ayyara yang ada dihadapan Naura bukanlah Ayyara yang lugu. Melainkan gadis angkuh yang berani mengangkat kepalanya setinggi mungkin. Memainkan kukunya yang dilukis oleh cat kuku yang cantik-cantik. Membuat Naura iri melihatnya.
“Kenapa?” Tanya Ayyara sambil menoleh dengan tatapan sinis.
Seperti gadis angkuh dan sombong. Namun Ayyara tak perduli. Hanya didepan Naura ia bersikap seperti itu. Ya, hanya didepan Naura dan Sabiru.
“Pulang. Bokap lo penyakitan, gue males rawat.” Ujar Naura dengan sinis.
Ayyara terkekeh dengan nada yang mengejek. Terdengar menyebalkan ditelinga Naura.
“Naura...Naura. Lo kan anak tunggal ya? Kok malah nyuruh gue yang rawat PAK BRYAN alias bokap lo itu? Gak malu emang? Lo anak tunggal tapi lo gak mau rawat. Gak usah sok-sok an mau usir gue dari keluarga Kahusein kalo lo sendiri gak mau repot.”
Ayyara tersenyum sinis saat berhasil memancing emosi Naura. Terlihat dengan jelas wajah gadis itu yang memerah dan juga tangannya yang terkepal.
“Lo-”
“Apa? Mau tampar gue? Jambak gue? Silahkan. Disini banyak orang yang bisa jadi saksi atas perilaku lo. Dan disana, ada bodyguard gue yang bisa nyeret lo dari muka bumi ini kapan aja.”
Naura terdiam. Gadis itu tak bisa berkutik sekarang. Ia baru ingat Ayyara adalah gadis yang di banggakan oleh siapa saja karna pernah memenangkan lomba melukis internasional. Dan sejak saat itu, Ayyara menjadi gadis yang sangat berpengaruh disekitarnya.
“Gak mau ngomong apa-apa lagi kan? Gue pulang. See you, sister.”
Ayyara tersenyum sinis, lalu mengambil tasnya. Berjalan dengan angkuh sehingga suara langkah kakinya menggema di caffe itu.
Meninggalkan Naura yang masih memiliki dendam dihatinya.