Gadis yang lolos dalam hukuman
—
Gema berjalan mengendap-ngendap mendekati seseorang yang sedang berkutik dengan pisaunya. Memotong beberapa sayuran yang sepertinya akan dimasak.
Dalam pikiran Gema, apakah Raken sedang memakai wig untuk membohonginya? Tetapi tubuh Raken sangat berbeda jauh dengan tubuh orang yang ada di hadapannya.
Gema terdiam sejenak. Seperti mengenal modelan rambut pirang yg ada di depannya. Tetapi sialnya Gema tak mengingat siapa itu.
“Raken?”
Tepuk bahu orang itu hingga membuatnya terkejut. Perempuan itu membali badan, menunjuk Gema dengan ujung pisau membuat Gema reflek mundur beberapa langkah.
“Gue Gema anjir! Bukan maling!” teriak Gema kesal.
Keduanya terdiam sejenak, sama-sama menetralkan rasa terkejut hingga mereka sadar akan sesuatu.
“Lo?!” ucap keduanya secara bersamaan.
“Lo Athaya kan? Wah parah. Pantes lo dikasih duit sama si Raken. Ternyata lo simpenannya.” ujar Gema dengan ringannya.
“Jaga bicara lo! Mau ni pisau ngerobek mulut lo?! Hah?!”
Athaya mendekati Gema dengan perlahan, posisi pisaunya masih sama. Berada dihadapan Gema hingga lelaki itu mundur dan bergidik ngeri. Sialnya punggu Gema menabrak tembok dan hanya menyisakan sedikit jarak antara ujung pisau dan hidungnya.
“I-iya! Ampun! Gue bercanda!”
“Lo ngapain masuk tanpa ngetuk dulu hah?! Kalo gue lagi telanjang gimana?! Gak sopan banget!”
Athaya menurunkan tangannya, tetapi tak melepas pisau itu dan terus ia genggam.
“Gue mana tau. Ini kan apart Raken. Lagian lo ngapain disini? Raken mana?”
“Kak Raken dirumah gue. Ngurus sesuatu. Dia gak balik kesini sampe besok.”
Athaya kembali ke meja dapurnya. Melanjutkan memotong sayuran dan menyalakan kompor untuk menumis bumbu nasi goreng.
Gema memperhatikan gadis itu. Mungil, cantik dan juga manis. Tiga kata yang menggambarkan Athaya bagi Gema. Dan juga gadis berani yang melawan Gema untuk pertama kalinya.
“Gue penasaran sama lo.” gumam lelaki itu.