Gak apa-apa.
Semilir angin yang begitu sejuk tidak dapat mengatur nafas Cilla kembali normal. Berkali-kali Cilla menarik nafas dengan begitu berat, sesak didada karena kenyataan yang ia terima hari ini begitu sangat menyakitkan.
Sebuah pohon besar dibelakang sekolah telah menjadi tempat persembunyian Cilla ketika ia mengalami hal buruk disekolah. Gadis itu memeluk kedua lututnya, matanya terpejam untuk mencari rasa tenang. Namun sialnya, sesak dadanya semakin menjadi-jadi dan tidak terkontrol.
Tepukan pada bahu gadis itu membuat Cilla reflek menoleh kebelekang, menatap siapa yang telah mengganggu waktu sendiri. Alisnya terangkat ketika melihat dua perawakan lelaki tinggi yang berdiri dibelakangnga. Salah satu lelaki itu duduk disamping Cilla, sedangkan yang satunya masih berdiri dibelakang gadis itu.
“Marvin? Galaxy? Lo berdua ngapain?” Tanya Cilla dengan suara yang pelan.
“Kita liat postingan lo, kak. Lo gak apa-apa kan? Kok bisa-bisanya lo masih temenan sama Kyren yang sering nikung lo?” Galaxy mengusap bahu kakak tirinya dengan perlahan, berusaha menenangkan Cilla yang masih terlihat sangat sedih karena perlakuan Kyren dan William.
“Ya gimana lagi? Temen gue cuman Kyren.”
“Itu bukan alasannya, Cil. Padahal lo bisa milih buat hidup sendirian dari pada terus-terusan makan hati.” Jawab Marvin yang berpindah tempat menjadi dihadapan Cilla.
Tangan lelaki itu dengan pelan menepuk pucuk kepala Cilla, memberikan sebuah usapan lembut walau hanya sebentar. “Hidup gak selalu harus sama orang lain, Cilla. Kita bisa milih buat sendiri supaya gak sakit hati. Pentingin diri sendiri dulu, baru orang lain. Karena yang lo pentingin belum tentu prioritasin lo 'kan?”
Ucapan dari Marvin membuat Cilla terdiam. Gadis itu menunduk, memainkan tali sepatu yang lepas namun dengan cepat Marvin membenarkannya.
“Nangis aja, kak.”
“Buat apa nangis? Toh gue udah ngalamin lebih parah dari ini. Gue kan kehilangan Papa Mama gue, dan menurut gue itu lebih sakit dibanding putus cinta.” Cilla tersenyum tipis setelah berbicara. Senyuman yang membuat Galaxy merasa bersalah walaupun bukan dia pelakunya.
Mereka bertiga sama-sama terdiam sekarang. Tidak ingin mengganggu Cilla yang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik. Marvin berpindah tempat menjadi disamping gadis itu, menarik kepala Cilla supaya bersandar dibahunya.
“Gak apa-apa lemah dulu, kuatnya nanti aja. Kalau udah kuat, buktiin ke orang jahatnya kalau lo baik-baik aja setelah mereka jahatin. Orang jahat bakalan seneng kalau korbannya nangis-nangis berkepanjangan. Udah, gak apa-apa, Cil.”