Giorgino Jendrana.
—
Lelaki dengan pakaian formal ala kantor itu langsung memasuki rumah Gracia tanpa meminta izin terlebih dahulu. Langkahnya langsung menginjak anak tangga menuju lantai dua. Kamar Gracia Aloyera.
“Aloyera!” teriak Jendra dengan intonasi yang sangat tinggi.
Gracia hanya diam dikamar sambil mengunci pintu. Hari ini ia sangat sial sekali. Ingin kabur namun berhasil ditahan oleh bodyguard yang dikirimkan oleh Jendra.
“Yera. Buka pintunya. Ini abang.” Jendra mengetuk pintu Gracia terus menerus.
Gracia hanya diam dikasurnya sembari meringkuk. Menangisi kenyataan yang sangat pahit dalam hidupnya. Bagaimana bisa Papanya sejahat itu oleh sang Mama? Bagaimana bisa lelaki yang selalu Gracia banggakan malah menyakiti hati keluarganya? Mengapa lelaki itu sangat jahat?
Pikiran pikiran tentang sang Papa dan juga Nathan langsung berkecamuk menjadi satu. Membuat Gracia semakin menangis dengan kencang hingga terdengar oleh Jendra.
Jendra berusaha menekan gagang pintunya namun terlalu keras hingga tangan lelaki itu memerah.
“Yera!” teriaknya sekali lagi.
Suara tangisan Gracia sudah tidak terdengar. Namun tergantikan dengan suara benda berjatuhan.
“Aloyera! Buka pintunya!”