Goodbye Goodboy.

Lira terdiam sembari memperhatikan guci yang tertuliskan nama kekasihnya disana. Guci yang telah diisi oleh abu kremasi benar-benar mematahkan harapan gadis itu sekarang. Julian benar-benar telah pergi dari hidupnya, Julian benar-benar telah berubah menjadi abu yang sangat halus.

Gadis itu ingin sekali menangis, namun rasanya ia sudah tidak mampu sama sekali untuk mengeluarkan perasaan sedihnya. Rasanya Lira benar-benar telah kehilangan jiwa didalam raganya.

Usapan pada bahu lemas itu berhasil membuat Lira tersadar dari lamunannya. Ia menoleh kepada Derren yang mengenakan kacamata hitam, mengusap bahu gadis itu dengan begitu lembutnya.

“Julian udah tenang ya, Ra? Sebenernya gue gak percaya, tapi itu kenyataannya.” Ujar Derren dengan sebuah senyuman menyakitkan yang lelaki itu tunjukan.

Lira mengusap lengan Derren untuk menguatkan lelaki itu. Bagaimanapun Derren lah yang lebih dulu menemani Julian, Derren adalah lelaki yang terus berada disisi Julian hingga akhir hayat kekasihnya.

“Julian nitipin surat buat lo. Bacanya dirumah ya, jangan disini.” Derren memberikan selembar kertas lusuh pada gadis yang ada disampingnya. Lelaki itu pergi begitu saja karena tidak sanggup untuk menahan tangisnya yang akan pecah.

Lira terdiam ditempatnya, ia memperhatikan kertas yang sudah lusuh itu dengan sebuah tulisan nama Julian didepannya. Gadis itu tersenyum tipis walau hatinya terasa teriris untuk yang kesekian kalinya. Matanya kembali memperhatikan guci yang berada didalam lemari. Memorinya kembali berputar dimana Julian sering sekali mengirimkan surat untuk melakukan pendekatan dengan Lira.

“Ian, nanti aku baca ya dirumah. Tapi aku gak janji kalau gak nangis.”