Happy, but...
—
Akala berjalan menyusuri Ballroom hotel tempat kuliahnya mengadakan acara Wisuda. Akala melihat sekitar, ia tak dapat menemukan kekasihnya padahal sudah berada di ujung acara.
Lelaki itu memutuskan untuk keluar dari hotel. Langkahnya mengarahkan Akala pada parkiran yang terletak disamping gedung itu.
Kembali, matanya melihat sekitar.
“Akala!” Teriak seorang perempuan sambil melambaikan tangan kearah Akala.
Akala tersenyum. Elena dengan senang mendorong kursi roda kearah Akala, melupakan pesan dari abangnya.
Senyum Akala pudar saat melihat mobil melaju dari arah kiri dengan kencang. Tetapi Elena tetap mendorong kursi rodanya dengan senang.
Akala melihat Elena dan mobil yang melaju secara bergantian. Ia bingung harus melakukan apa.
“Elena! Awas!”
Teriakan dari Mama Elena membuat Akala tersadar. Lelaki itu berlari dengan cepat, mendorong kursi roda Elena hingga mundur menabrak mobil milik Elena.
Akala bernafas lega, walau hanya sebentar sampai mobil itu menabraknya dengan kencang.
Elena berteriak dengan keras. Melihat Akala tertabrak hingga terlempar jauh bukanlah keinginannya hari. Melihat kemeja Akala yang senada dengan Elena telah dipenuhi darah bukanlah keinginannya juga.
Sedangkan orang yang berada didalam mobil tersenyum dengan puas. Maura, perempuan itu sudah tidak perduli jika ia harus masuk penjara atas perbuatannya.
Intinya, perempuan itu sudah puas sekarang.
©dya090421