Hari Kelulusan.
Suasana ramai yang berasal dari ballroom hotel tidak membuat rasa kesepian Jian berkurang. Lelaki itu hanya duduk disamping Mbak Sum, dengan jari yang terus memainkan kuku sebab khawatir.
Matanya tak henti-henti melihat kearah panggung yang tersedia dan guru-guru yang duduk dengan tenang dibarisan paling depan. Tak terlalu banyak bicara, Jian lebih memilih untuk memejamkan matanya karna gugup.
Tak terasa acara telah berjalan dengan sangat cepat dan sangat lancar. Dari pembukaan, pembagian medali, dan acara berfoto dengan kelasnya masing-masing.
Jian keluar dari gedung hotel tersebut, diikuti Mbak Sum yang berada dibelakangnya.
“Den.” panggil Mbak Sum membuat langkah Jian terhenti.
Lelaki itu menoleh, menatap Mbak Sum dengan wajah datar. Karna Jian paling tak suka jika Mbak Sum memanggilnya dengan Den. Sebab Mbak Sum sudah Jian anggap seperti orang tuanya sendiri.
“Jian.” ujar Jian dengan dingin.
Mbak Sum tersenyum tipis. Wanita paruh baya itu mengangguk dengan lembut. “Iya, Jian. Mbak Sum ada hadiah buat, Jian.” Mbak Sum mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dengan pita merah sebagai hiasan.
Jian mengambil hadiah tersebut, perlahan senyuman lelaki itu mengembang. Ia langsung memeluk Mbak Sum dengan sangat erat.
“Makasih banyak, Buk Sum.” ujar Jian dengan senang.
Ia melepaskan pelukannya, kakinya langsung melangkah dengan ceria kearah mobil yang ia bawa.
Sesungguhnya, Jian merasakan ada yang kurang didalam acara kelulusannya. Sesungguhnya, Jian merasakan perasaan yang lebih dari kesepian.
Namun Jian tetaplah Jian. Anak 18 tahun yang telah dibutakan oleh kebencian kepada sang Papa.