He's gone.
—
Elena masuk kedalam ruangan ICU dengan dibantu salah satu suster yang menangi Akala. Dapat Elena lihat bahwa kekasihnya membuka mata dengan kondisi mata yang sayu dan lelah.
Elena menggenggam tangan Akala. Ia berusaha mati-matian untuk tidak menangis di depan kekasihnya.
“E—el...” Panggil Akala dengan suara pelan dibalik oxygen mask yang terpasang.
Air matanya berhasil lolos sekarang. Elena tak tahan, Elena tak bisa menahan jika lukanya terlalu dalam.
“B-bahagia terus ya...El.” Ujar Akala kembali dengan nafas yang terputus-putus.
“Sama kamu, Kala.” Suara Elena bergetar. Perasaannya mulai tak tenang sekarang.
“Tanpa a-aku...” Akala menarik nafasnya dengan dalam. Dadanya mulai terasa di cengkram hingga ia merasa sulit untuk bernafas.
“Aku sayang kamu, El. Titip bunda ya?” Ujar Akala terakhir sebelum suara mesin EKG terdengar sangat nyaring.
Tangis Elena pecah, ia mengeratkan genggamannya pada tangan Akala yang mulai terasa dingin.
Dunia gadis itu runtuh. Semuanya hancur dan kosong. Elena tak tau harus berbuat apa jika Akala meninggalkannya. Tak pernah sedikitpun Elena berfikir hidup tanpa Akala.
Akala penting baginya. Akala spesial untuk dirinya. Akala adalah penyemangat hidupnya.
Dan jika Akala pergi, apa alasan untuk Elena bertahan?
©dya090421