I Love You.

Setelah mendapatkan pesan dari Carolline, dengan kecepatan tinggi Tama mengendarai mobilnya menyusul Kara yang sudah berada di Café Neo. Lelaki itu menatap waswas dan cemas, pikiran buruknya sudah mulai berkecamuk.

Tama memarkirkan mobilnya dengan sembarang. Lelaki itu dapat melihat Kara yang sedang duduk sambil memainkan handphonenya dimeja luar Café. Dengan segera Tama turun dari mobil, menghampiri Kara dan langsung memeluk gadis itu.

Kara terkejut. Matanya membulat saat dengan tiba-tiba Tama memeluknya. Gadis itu mematung di tempat.

“T-tam?”

“Aletta, saya cemas. Kata Carolline dia akan menyelakai kamu sekarang juga.” ujar Tama dengan suara pelan. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.

Tanpa mereka sadar, dibelakang Kara sudah ada Jevan yang berdiri sambil memegang sebuket bunga mawar putih. Bunga kesukaan Kara sejak dulu.

Matanya menatap cemburu kearah Tama yang memeluk Kara. Hatinya berdesir tak terima sebab wanita yang dicintainya telah berada didekapan orang lain. Bahkan dapat dengan jelas Jevan melihat Kara dipeluk dengan sangat erat.

“Kara, ternyata ini ya jawaban kamu?” gumam Jevan tersenyum miris.

Lelaki itu membalikan badannya, ingin melangkah pergi namun niatnya harus ia urungkan saat tak sengaja melihat lelaki dengan jas hitam menodong sebuah pistol. Jevan mengikuti arah pistol itu, matanya membulat saat melihat pistol itu mengarah ke Kara.

Dengan cepat Jevan berlari, ia berdiri persis dibelakang punggung Kara. Menatap Tama dan juga Kara yang berpelukan tepat didepannya.

Dor-!

Sampai suara dentuman keras membuat Kara dan Tama tersentak. Kara menoleh kebelakang, mendapati Jevan yang berdiri sambil tersenyum. Membuat mata Jevan semakin terlihat sipit.

“Jevan?” Kara ingin mendekati Jevan, namun lelaki itu langsung tumbang dengan punggung yang mengeluarkan banyak darah.

“Jevan!”

Kara berteriak, ia langsung duduk dan mengangkat kepala Jevan. Tangannya tak sengaja menyentuh punggung Jevan membuat lelaki itu meringis sakit.

“J-jev.” suara Kara terdengar gemetar. Diikuti oleh tangan gadis itu yang nampak gemetar takut melihat darahnya.

Jevan tersenyum tipis, dengan susah tangan Jevan menggenggam tangan Kara. Walau tidak erat, namun rasa dingin dari tangan itu dapat Kara rasakan.

“K-kara... aku... ba-wa mawar p-putih.” ujar Jevan dengan terbata.

Kara melihat sekitarnya. Tangan kanannya dengan perlahan mengambil sebuket bunga mawar putih yang sudah berubah berwarna merah.

“M-maaf ya? Mawar... shhh... mawarnya jadi j-jelek.”

Kara menatap lelaki yang berada dipangkuannya. Gadis itu mulai terisak. Ia tak perduli akan bunga mawar yang sudah berubah warna. Yang Kara inginkan adalah Jevan bertahan untuk sekarang.

“Jevan, bertahan ya? Aku janji, kalau kamu sembuh, aku bakalan terima kamu lagi. Jevan, bertahan oke? Ayo kita buat kisah yang baru dan lebih baik. Jangan tinggalin aku, Jevan.”

Kara memeluk Jevan dengan erat. Gadis itu semakin terisak mendengar Jevan yang terus meringis dan juga darah yang terus keluar dari punggung Jevan.

“K-kara... bahagia ya c-cantik?”

Kara menggeleng dengan keras. Ia tak mau mendengar kalimat yang membuatnya takut kehilangan.

“Jevan, bahagia aku sama kamu. Jangan tinggalin aku. Aku mohon.”

“Kara... i love you.”