Insiden
Pagi itu Narendra dan juga Raden terlihat buru-buru untuk berangkat. Tentu karna mereka yang bangun kesiangan. Sangat ceroboh karna tidak memasang alarm satu sama lain. Dan entahlah mengapa Johnny tak membangunkan anak-anaknya.
Narendra menyetir mobil dengan tidak santai. Terkesan buru-buru dan selalu menambah kecepatannya selang beberapa menit.
“Na, santai aja, jangan ngebut.” Raden berusaha menenangkan adiknya yang panik karna terlambat. Namun Raden juga sangat takut jika terjadi sesuatu pada ia dan juga adiknya.
“Na, pel—NARENDRA! AWAS DI DEPAN!”
Narendra terkejut dengan teriakan Raden. Ia baru sadar jika di depan mereka terdapat truk dari arah berlawanan. Narendra membanting stir hingga ban berbunyi sangat nyaring. Berharap mereka bisa selamat dari kecelakaan tersebut.
Tapi nyatanya, mereka tak bisa selamat. Ban mobil mereka meledak hingga mobilnya terguling beberapa meter. Membuat mereka terbentur dan juga terkena pecahan kaca.
Raden melihat adiknya sudah menutup mata dengan rapat, tangannya berusaha bergerak walau keadaannya sangat sempit dan sakit. Mobil mereka dalam kondisi terbalik, membuat pergerakan Raden sangat kecil.
Randen berhasil menggenggam tangan Narendra, perlahan kelopak mata itu memberat, Raden menutup mata hingga hanya suara berisik dari luar mobil yang ia dengar, sedangkan kesadarannya sudah di renggut oleh kegelapan.