IRI BERUJUNG BENCI.

16 Februari 2007. Papa dari si kembar telah kembali dari dinasnya selama sebulan. Membawa tentengan berupa oleh-oleh untuk kedua anaknya.

Si paling kecil berteriak girang, diikuti dengan sang abang. Mereka berdua bersorak riang saat sang Papa telah kembali dan membawakan mereka mainan baru.

“Ares, Aras, Papa cuman bawa satu mainan. Kalian mainnya ganti-gantian ya? Kalau Papa ada uang, nanti Papa beliin lagi ya?”

Si sulung mengangguk. Sedangkan si bungsu menatap sang Papa dengan sedih. Enggan berbagi karna pada saat itu Arasha adalah bocah yang belum mengerti apa itu berbagi.

Sang Mama yang melihat itu lantas mendekati si kembar. Mengambil mainan tersebut lalu memberinya kepada Arasha.

“Ares ngalah ya? Mainannya buat Aras dulu. Ares belakangan aja ya?” Ujar sang Mama membuat wajah Aresha berubah murung. Namun anak kecil itu tetap mengangguk patuh.

“Makasih abang!” Arasha memeluk Aresha dengan senang. Membawa mainan baru itu ke kamar. Tanpa mengajak Aresha.

2 Agustus 2007. Hari ulang tahun si kembar.

Tepat pada pukul 00.00 Arasha dan Aresha terbangun dari tidurnya. Terdengar suara bising dua orang yang menyanyian lagu ulang tahun untuk mereka.

Arasha dan Aresha bangun dari tidurnya. Bibirnya terangkat untuk tersenyum. Tangannya saling menggenggam satu sama lain, mata mereka terpejam untuk berdoa.

Hingga akhirnya mereka meniupkan lilin yang berada diatas kue tersebut. Namun mata Aresha gagal fokus saat melihat kue tersebut hanya berisikan nama Arasha.

“Ma, Pa, kenapa cuman nama Arasha?” Tanya Aresha dengan penasaran.

Mama dan Papa saling memandangi satu sama lain. Tangan Papa terangkat untuk mengusap surai rambut milik Aresha.

“Maaf ya, sayang? Tulisannya gak muat buat dikasih nama kalian berdua. Jadi Papa kasih nama Aras aja. Aresha ngalah ya? Aresha kan abang.” Ujar sang Papa dengan tatapan bersalah.

Wajah Aresha berubah marah. Kesabaran bocah itu sudah habis untuk mengalah. Merasa tak dianggap sebagai anak Adeline dan Algero. Merasa diasingkan dan selalu dibandingkan dengan Arasha.

Hingga akhirnya Aresha nekat untuk menyelakai dirinya. Memfitnah Arasha hingga sang Mama benci terhadap adiknya. Namun sang Papa tetap berada dipihak Arasha.

Aresha merasa senang walau hanya sang Mama yang berada di pihaknya. Merasa bahagia walau harus terdapat pukulan untuk mendapatkan kasih sayang.

Sejak saat itu Aresha telah buta. Buta terhadap kebaikan Arasha dan buta terhadap kasih sayang.