Iringan hujan dalam tangisan.

Hujan lebat yang membasahi kota Jakarta membuat lelaki dengan hoodie tebal itu berlari dengan kencang menuju halte bus yang ada didepannya. Mata sipitnya dapat menangkap perempuan yang sejak tadi ia cari. Haidar buru-buru melepaskan hoodienya lalu menyampirkan hoodie itu ke bahu Alana yang sedang menunduk.

Alana mendongak, matanya terlihat sembab dan juga pipinya terlihat basah. Sudah bisa Haidar tebak pasti Arga berbuat ulah lagi kepada Alana.

“Al.” Haidar berjongkok dihadapan Alana, menggenggam tangan gadis itu karna takut Alana kedinginan.

“Dar, sesulit ini ya mempertahankan hubungan? Sesakit ini ya mencintai seseorang?” suara Alana terdengar gemetar. Antara karna Alana menangis terus atau kedinginan.

“Al, semuanya pasti butuh proses. Gak ada yang instan. Lika liku dalam hubungan itu hal yang wajar.”

“Dar, gue cape banget selalu ngalah. Gue cape banget ngeliat Arga selalu bela Paula. Kayak...gue kapan? Kapan Arga bisa utamain gue?”

Alana menunduk, gadis itu kembali terisak. Kalau difikir sudah setahun lebih Alana yang selalu mengalah. Mengalah dari Paula dan selalu menjadi nomor dua untuk Arga.

“Dar, gue mau udahan tapi gue gak bisa. Paula terlalu jahat buat Arga. Tapi gue juga cape, Haidar.” Alana semakin terisak.

Dengan cepat Haidar memeluk gadis itu. Mengusap punggung Alana supaya lebih tenang. Bahkan gadis itu membalas pelukan Haidar dengan sangat erat.

“Dar, gue cape.”

“Al, udah ya? Kalau cape berhenti. Pikirin perasaan lo juga, pikirin hati lo. Jangan karna rencana lo yang ungkap kejahatan keluarga Paula, perasaan lo yang jadi korban.”

Tangan kanan Haidar beralih mengusap rambut Alana. Sedangkan tangan kirinya terkepal dengan kuat. Ia tak terima jika Alana selalu menangis karna lelaki bajingan seperti Arga.

“Al, masih ada gue. Masih banyak cowok yang bisa mencintai lo dengan tulus. Udah ya?”

Haidar melepaskan pelukannya dengan perlahan. Menghapus air mata yang berada di pipi Alana.

“Haidar, makasih ya. Gue bakalan lepasin Arga kalau Arga gak berubah kedepannya.”

Alana tersenyum, hatinya berubah menghangat sekarang. Entahlah, ia merasa sangat nyaman jika berada di dekat Haidar dan didalam pelukan lelaki itu.