Jam istirahat.

Lelaki dengan seragam rapih itu duduk dikursi yang berada didepan Gracia. Tangannya menaruh dua roti isi daging dan juga dua kotak susu kecil. Ia tersenyum lalu mengambil satu roti dan juga satu kotak susu.

“Satu satu. Makan, Ci, jangan gak makan. Nanti lo sakit lagi gimana?” tanya Nathan dengan senyumannya.

Gracia terdiam. Ia melirik roti isi dan juga susunya secara bergantian. Ingin menolak, namun harus bilang apa?

“Nath, gue gak laper.”

“Udah gue beliin. Jangan sampai mubazir, Cia. Sayang duitnya. Nyari duit gak gampang loh.”

Ujar Nathan membuat gadis itu merasa semakin tidak enak. Gracia dengan perlahan mengambil bungkusan rotinya. Lalu membuka bungkusan itu dan langsung memakan rotinya dengan lahap. Entah mengapa roti isi itu terasa sangat enak. Apa mungkin karna Gracia kelaparan?

Nathan tersenyum sambil menatap Gracia yang terlihat lahap makannya. Lelaki itu tau, Gracia tidak makan apapun sejak tadi. Karna Jevan bercerita bahwa gadis itu tidak ada yang mengantar dan naik kendaraan umum.

“Lo gak makan dikantin, Nath?”

“Nggak ah, males. Ada nenek lampir.”

“Nenek lampir?”

“Itu si Rara.”

uhuk!

Gracia tersedak karna reflek ingin tertawa. Nenek lampir? Sangat cocok panggilannya untuk Rara. Entahlah, Gracia merasa tidak suka dengan gadis itu.

“Nath, makasih ya.” ujar Gracia setelah menghabiskan susu rasa strawberry.

Nathan mengangguk. Mengambil bungkusan sampah milik Gracia lalu berdiri.

“Gue aja yang buang. Lo belajar yang fokus, jangan mikirin soal Jevan. Karna kalo hati terus yang dipikirin gak ada habisnya. Yang ada bikin lo murung terus.”

Nathan tersenyum, mengacak rambut gadis itu lalu keluar dengan diamnya Gracia. Apa maksudnya?