Jevan, apa kabar?
Pukul 17.00 sore. Kara, gadis itu sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai. Tubuhnya terasa sangat pegal karna sedari pagi ia dan Tama sibuk menyapa para tamu undangan. Dan sekarang, pada sore hari tepat dihari pernikahannya, Kara dan Tama mendatangi tempat pemakaman Jevan.
Tangan kanan Kara memegang sebuket bunga mawar putih. Sedangkan tangan kiri Tama memegang air mawar dan juga kembang untuk ziarah. Tama menggenggam tangan istrinya. Menuntun Kara untuk menuju ke makam Jevan.
“Hati-hati.” ujar Tama sambil memperhatikan Kara yang sedikit susah karna harus menaikan sedikit rok panjangnya supaya tidak tersangkut.
Dengan perlahan, kaki Kara berhenti tepat disamping makam Jevan. Sedangkan di sisi kiri dan kanan makam lelaki itu, terdapat makam kedua orang tua Jevan. Kara duduk pada keramik kecil yang disediakan disamping makam. Tangan mungil gadis itu mengambil beberapa daun kerin yang berhamburan diatas makam Jevan. Terlihat terawat namun sedikit berantakan.
“Jevan, apa kabar?” ujar gadis itu sambil mengusap batu nisan yang bertuliskan Jevan Adityama.
“Jevan, aku berhasil penuhin permintaan terakhir kamu. Aku berhasil untuk bahagia, Jevan. Aku berhasil ucapin kata 'ya' itu untuk orang lain. Untuk lelaki yang menjadi suami aku sekarang.”
“Jevan, mungkin ini takdir yang terbaik untuk kita ya? Takdir yang memang seharusnya tidak aku salahkan. Sekeras apapun aku berusaha, kamu pasti gak akan pernah kembali lagi.”
“Jevan, jangan takut ya? Aku pasti tetap jenguk kamu. Selama aku ada waktu, aku pasti selalu datang dengan mawar putih. Seperti waktu terakhir kamu ketemu sama aku.”
Kara tersenyum. Sekarang gadis itu sudah tidak lagi mengeluarkan air matanya untuk Jevan. Gadis itu telah ikhlas perihal kepergian Jevan.
“Jevan, aku pulang dulu ya? Titip salam untuk kedua orang tua kamu.”
Kara mencium batu nisannya cukup lama. Tangannya menaruh mawar putih dan disenderkan pada batu nisan tersebut.
Hari ini Kara merasa sangat lega. Gadis itu berhasil mengikhlaskan Jevan, gadis itu berhasil mengikhlaskan takdir yang merenggut Jevan dari hidupnya, gadis itu berhasil datang tanpa air mata yang keluar.
Dan Kara harap, untuk kedepannya takdir tidak mengambil Tama dari hidupnya. Kara berharap takdir tidak lagi jahat kepadanya. Dan Kara berharap takdir tidak memisahkan Tama dari dirinya.