'Jian, Papa ada pada saat itu.'

Langkah kaki yang tegas itu memasuki rumah besar yang telah ditempatinya sejak kecil. Walau matanya sipit, namun terlihat dengan jelas tatapannya berubah tajam saat melihat Papa yang berada diruang tengah sambil memegang beberapa berkas.

Jian dengan santainya melewati Jeffryan. Namun langkahnya terhenti saat namanya merasa terpanggil oleh sang Papa. Tubuhnya berbalik, menatap Jeffryan dengan sangat malas.

“Apa?”

“Makan dulu. Kamu baru pulang, pasti capek. Makan dulu ya, abis itu ganti baju. Papa tadi minta bi-”

“Bisa berhenti bersikap perduli dengan saya?” Jian menggeram, merasa sangat muak dengan sifar Jeffryan. Lelaki itu tak suka jika Iyan memperhatikannya sekarang. Aneh memang.

“Papa gak mungkin gak perduli sama kamu, Jian. Kamu anak Papa.”

“KALAU PAPA ANGGAP SAYA ANAK SEHARUSNYA PAPA JUGA ANGGAP JEAN DAN MAMA ITU KELUARGA PAPA!”

Emosi Jian pecah begitu saja. Remaja 18 belas tahun itu dengan beraninya menatap marah kearah sang Papa yang sudah beranjak menuju usia 43 tahun. Nafas Jian memburu, tangan Jian terkepal sangat kuat hingga kuku-kuku tersebut menembus kulit tebal yang berada di telapak tangannya.

“Saya tanya sekarang. Papa kemana saat Jean dan Mama kecelakaan? Papa kemana saat mereka kritis? Papa kemana saat mereka sedang mempertahankan nafas mereka? Bahkan untuk bernafas saja, mereka butuh hampir 10 tabung oksigen. PAPA KEMANA SAAT ITU?! HAH?!”

Suara Jian yang awalnya terdengar gemetar harus berakhir dengan bentakan. Mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini. Alasan mengapa Jian berubah sejak umur 14 tahun hingga sekarang.

“Jian, kamu salah paham. Papa ada Jian. Papa ada disana. Tapi-”

“Tapi apa? Ada telfon dari client Papa? Ada pekerjaan yang belum Papa selesaikan? Alasan basi. Saya muak dengan alasan itu. Sekarang saya minta tolong dengan Papa. Tolong berhenti perduli dan jangan mengajak saya berbicara lagi.” ujar Jian dengan dingin lalu meninggalkan Jeffryan yang mematung.

Iyan menghela nafas pelan. Lelaki itu kembali duduk disofa. Menatap layar laptopnya yang berisi foto dirinya dengan Kiara.

“Ra, aku ada pada saat itu. Dengan kondisi tubuh yang tidak stabil. Aku ada, Ra. Kita sama-sama berjuang. Bedanya kamu udah menyerah, dan aku masih bertahan demi Jian. Bagaimana kalo aku menyerah, Ra?”