Julian&Lira.

Suara tabrakan antara sepatu dan lantai rumah sakit sangat nyaring ditelinga orang-orang yang berada di lorong lantai 3. Secepat mungkin Lira berlari menuju ruangan yang Derren beritahukan, berharap jika apa yang Derren bilang hanyalah bercandaan belaka. Berharap semua yang Derren bilang adalah kebohongan untuk menakuti dirinya.

Langkah itu berubah memelan ketika melihat dua pria yang sangat Lira kenali. Pria paruh baya dan lelaki muda yang duduk didepan untuk menunggu gadis pemilik hati Julian. Dengan langkah yang berat Lira mendekati Derren dan Gio disana, matanya memancarkan ketakutan yang begitu luar biasa.

“Derren.” Panggil Lira dengan suara yang terdengar gemetar. Sontak Derren dan Gio menoleh secara bersamaan, kedua pria itu lantas berdiri dari duduknya. Menghadap Lira yang lebih pendek dari mereka berdua.

“Ra, Julian didalem tapi lo jangan nangis ya? Julian paling gak siap lo nangis karena dia, Ra.” Ucapan Derren berhasil membuat air mata Lira jatuh begitu saja.

Sesak didalam dada gadis itu datang disaat ia menyadari bahwa ini semua bukanlah mimpi yang ia harapkan. Kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat. Melihat Julian sakit adalah patah hati terbesar untuknya.

“Ra...” Derren mengusap bahu Lira yang terasa gemetar. “Julian cuman mau diakhir hidupnya ada lo disampingnya.”

Tangis Lira pecah begitu saja setelah mendengar ucapan dari lelaki yang ada dihadapannya. Dengan sekali tarikan Gio berhasil mendekap gadis yang telah menjadi kesayangannya sejak lama. Gio mengusap punggung Lira dengan perlahan, memberikan kekuatan pada calon mantu kesayangannya.

“Lira, kuat ya, nak? Julian mau lihat kamu untuk yang terakhir kali.” Suara Gio terdengar gemetar ditelinga Derren. Lelaki itu tau jika pria paruh baya dihadapannya merasakan ketakutan yang luar biasa, namun Gio dipaksakan kuat karena usianya yang lebih dewasa.

“Temuin Julian ya.” Gio melepaskan pelukannya perlahan, menghapus air mata Lira dengan begitu lembutnya. Seperti Julian yang suka mengusap pipi Lira dengan perlahan dan sangat lembut untuk dirasa.

Dengan langkah gontai Lira memaksakan diri untuk memasuki ruangan Julian. Tangan gemetar itu ia paksakan untuk mendorong pintu yang masih tertutup dengan rapat, indra penciumannya langsung menangkap bau alkohol yang sangat menyengat. Mata bulatnya langsung melihat Julian yang terbaring sembari memejamkan matanya, dengan alat-alat medis yang terpasang ditubuh lelaki itu.

Nafas Lira tercekat melihat Julian yang sangat lemah terbaring diatas ranjang. Perlahan tubuhnya ia bawa untuk mendekati Julian, menatap Julian yang sangat kurus lebih dekat. Rasanya lebih menyakitkan dari pada sebelumnya, hingga Lira harus menutup mulutnya untuk menahan isakan yang berusaha keluar.

Mata Julian perlahan terbuka ketika ia merasakan kehadiran seseorang disekitarnya. Bola matanya melirik kearah kanan, mendapati Lira yang memejamkan mata dengan air mata yang keluar. Mata sayu itu hanya menatap sendu kearah kekasihnya yang menahan tangisan, ada terselip rasa bersalah didalam lubuk hatinya.

Ingin sekali Julian memeluk Lira, ingin sekali Julian menenangkan Lira. Namun Tuhan telah mengambil seluruh kemampuannya bergerak, Tuhan telah memberhentikan seluruh otot-ototnya. Sehingga yang Julian bisa lakukan hanya berbaring dengan rasa sesak yang ada didadanya.

Dengan sedikit keberanian Lira membuka matanya, menatap mata Julian yang ternyata sedang menatap dirinya. Perlahan Lira duduk pada kursi yang ada disebelahnya. Gadis itu tidak bisa menahan tangisnya hingga pecah disamping Julian. Rasanya sesak sekali melihat Julian yang hanya berbaring tanpa bisa melakukan apa-apa.

“I-ian...sembuh ya?” Ujar Lira dengan suara terbata-bata. Julian hanya menatap tanpa ekspresi, bahkan hanya untuk tersenyum pun lelaki itu sama sekali tidak mampu.

“Julian, jangan tinggalin Lira.” Lira menggenggam tangan Julian dengan begitu erat. Seolah menghalang jiwa Julian untuk pergi dari raganya.

“Katanya Ian ke Bali? Kok dirumah sakit? Katanya Ian bakalan tetep disamping Lira? Kok kata Derren Julian mau pergi? Katanya Ian bakalan hidup sampai tua sama Lira, kok Ian bohong?” Banyaknya pertanyaan yang diberikan Lira tidak dapat membuat Julian kembali berbicara.

Tangis gadis itu semakin pecah karena harus menerima sebuah kenyataan. Julian telah kehilangan seluruh kehidupannya, Julian telah kehilangan semua masa depannya dan Julian telah kehilangan jiwa yang telah menemani raganya.

“Ian, bahagia sama Tuhan ya? Lira bakalan bahagia kalo Ian juga bahagia.”