Kacau
—
Bulan menatap Rumi dan juga Bumi dengan tatapan yang amat kecewa. Sama dengan Gala yang menatap Papanya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
“Bunda...kenapa harus Papanya kak Gala? Kak Gala pacar Bulan, Bunda.” ujar Bulan dengan suara bergetar.
Gadis itu tak habis fikir dengan keluarganya. Ia tak pernah sekecewa ini sebelumnya. Bulan tak apa jika Bumi membencinya, tapi Bulan tidak mau jika cintanya harus gugur dan berujung dengan bersaudara.
“Bulan, ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaan Grandpa.”
“Dengan mengorbankan hati Bulan? Dari dulu, Bulan selalu ngalah, Bunda. Bulan selalu ngalah untuk semua hal. Bulan rela dipaksa pintar sama Ayah supaya kak Bumi gak sakit karna omelan Ayah. Bulan rela di hina karna kak Bumi dan kak Cloudya. Bulan rela bersihin rumah dan masak karna gak mau liat Bunda kecapean. Dan ini balasan kalian ke Bulan?”
Air mata Bulan mengalir. Menandakan bahwa wanita itu sangat kecewa. Amat kecewa pada semuanya.
Mata sembab itu menatap Bumi yang hanya diam. Menatap mata Bumi yang sedang diselimuti kebingungan.
“Lo tau semua itu gak ada yang gratis kan? Lo liat gue dimanjain Ayah, lo liat gue disayang Ayah, lo liat gue selalu di perhatiin Ayah tanpa lo tau gimana Ayah dibelakang lo. Ayah kekang gue supaya belajar, Ayah suruh gue les dari pulang sekolah sampai malam. Ayah suruh gue untuk dapet juara umum di sekolah. Itu kenyataannya Kak Bumi!”
Bulan berteriak tepat didepan wajah Bumi. Nafasnya memburu, hatinya terasa sangat sakit saat ia mengutarakan kenyataan itu. Kenyataan yang membuat Bulan harus menerima perilaku kasar Bumi karna sebuah salah paham.
“Bulan pergi. Kalau kalian mau nikah, nikah aja. Gak usah nunggu Bulan.” gadis itu berdiri dari duduknya.
Matanya menatap Gala yang hanya diam sedari tadi. “Kita putus, Kak.” ujarnya sebelum pergi meninggalkan ruang privat itu yang berubah menjadi sunyi.