'Kal, putus yuk.'
—
Elena memandangi Akala yang sedang menyuapi dirinya. Hati sedang bingung sekarang. Ingin sekali ia mengakhiri hubungannya dengan Akala namun ia tidak seberani itu untuk mengucapkan kata berpisah.
Dulu, Akala adalah lelaki penyelamat Elena. Lelaki yang membuat Elena bangkit dari keterpurukan karna kepergian kedua orang tuanya. Akala itu spesial, bahkan sampai sekarang.
Tetapi sayangnya, rasa takut dan juga bingung lebih mendominasi perasaan Elena saat ini.
Elena tak paham, lelaki itu selalu berubah sifatnya dalam sekejap. Bahkan hingga di titik kemarin Elena menjadi takut dengan Akala. Kembali, ucapan Akala kembali terngiang di fikiran Elena.
Akala membereskan kotak makan karna salad buah yang Elena makan sudah habis. Lelaki itu mengambil air di nakas lalu membantu Elena minum dengan perlahan.
“Istirahat ya. Jangan sakit lagi.” Akala menggenggam tangan gadisnya. Elena hanya tersenyum tipis untuk membalas.
“Akala.” Panggil Elena.
Akala menaikan alisnya, isyarat ia bertanya 'apa' kepada Elena. Perasaan Akala tak tenang, ia sudah takut jika Elena memanggil namanya.
“Akala, kita putus ya? Aku cape, Akala.”
Satu detik hingga lima detik Akala tak merespon apapun. Terlalu sulit untuk mencerna dengan perasaan yang berantakan.
“Elena—”
“Akala, please . aku butuh istirahat. Aku terlalu cape hadapin kamu, Akala.”
Akala menggeleng, lelaki itu tak siap jika harus berpisah dengan Elena. Bahkan sampai kapanpun ia tak siap.
“Elena, kasih aku kesempatan. please . aku bakalan perbaikin semuanya. Aku bakalan prioritasin kamu mulai sekarang. Tapi jangan putus ya?”
Akala menatap memohon kepada gadisnya. Hatinya sakit, ia tak siap. Bahkan matanya telah buram karna air mata.
Sekarang Elena bimbang. Apa janji lelaki itu bisa ia percaya? Apa semuanya ucapan Akala ia bisa genggam? Atau hanya kalimat-kalimat yang membuat Elena tenang?
Elena bukan anak kecil yang gampang di imi-imingi. Ia gadis yang butuh pembuktian untuk kedepannya.
“Buktiin, Akala.”
©dya310321