Kali terakhir.
—
Sudah seminggu berlalu sejak Gracia menjauhkan Jevan. Sudah berbagai cara Jevan lakukan untuk mendapatkan maaf gadis itu. Salah satu caranya dengan mengantarkan makanan kepada Gracia dari pagi hingga malam. Walau akhirnya gadis itu akan membuang atau memberikan makanannya keorang lain.
Jevan sejak pukul 06.00 pagi berdiri di depan gerbang rumah Gracia. Sekarang ia akan mengganti usahanya. Ia akan memilih untuk mengantarkan langsung dan mengajak Gracia untuk berangkat bersama. Karna jika lewat chat saja pasti Gracia tidak membacanya. Tentu karna Gracia masih memblock Jevan.
Namun hingga pukul 07.15 Gracia belum keluar dari rumahnya. Jevan sangat yakin Gracia belum berangkat sekolah karna jendela kamar yang terbuka. Namun anehnya gadis itu belum berangkat sekolah hingga sudah lewat jam masuk.
Bibirnya tertarik untuk tersenyum ketika melihat Gracia keluar dari rumah. Namun keningnya langsung mengkerut saat melihat dua koper besar yg dibawa gadis itu.
“Cia mau kemana?” Gumam Jevan.
Gracia menoleh kearah gerbang. Wajahnya berubah terkejut saat melihat kehadiran Jevan didepan gerbang. Namun mata itu langsung berubah berkaca-kaca saat mengingat bagaimana rasa sakit yang Jevan berikan.
Dengan tergesa Jevan membuka pintu gerbang saat Gracia ingin kembali kedalam. Lelaki itu berlari, berhasil meraih lengan Gracia lalu menarik gadis itu kedalam dekapannya.
“Ci, maafin gue.” Ujar Jevan dengan suara pelan.
Gracia terdiam. Bingung, antara ingin membalas pelukan Jevan atau melepaskan pelukan lelaki itu. Namun dihatinya yang paling dalam, pelukan hangat milik Jevan lah yang sangat Gracia rindukan.
“Jev-”
“Cia, maafin gue. Gue bodoh dan gue akuin itu. Gue salah sama lo. Maaf, maaf gue sering nyakitin lo selama ini. Maaf karna gue lo harus murung seminggu ini. Gue harus gimana Ci biar lo maafin gue?”
Nafas Gracia tercekat, seperti menahan tangisnya didekapan Jevan. Gadis itu bingung. Bahkan ia tak tau Jevan harus berbuat apa supaya ia dapat memaafkan lelaki itu. Ia melepaskan pelukannya. Menatap mata Jevan dengan sangat lekat.
“Jev, gue harus pergi.”
“Lo...lo mau kemana?”
“Jevan, gue terima maaf lo. Gue harus pergi sekarang. Gue harus ke Bandung buat ikut Mama.” Suara Gracia terdengar gemetar saat melihat Jevan mengeluarkan air matanya. Gadis itu lebih memilih untuk menunduk sekarang.
“Ci, please jangan pergi. Gue gak apa-apa lo gak maafin tapi jangan pergi. Gue mohon.”
Jevan ingin kembali memeluk Gracia. Namun ditahan oleh gadis itu.
“Jevan, maaf. Gue gak bisa bertahan disini.” Ujarnya lalu mengambil kedua koper tersebut.
Jevan ingin menahannya, tetapi niatnya harus diurungkan saat melihat mobil hitam pekat yang masuk keperkarangan rumah Gracia.
“Yera, ayo.” Bang Je turun dari mobilnya. Membantu Gracia untuk mengangkat koper dan dimasukan kedalam bagasi mobil.
“Ci...”
Gracia tidak menoleh. Ia lebih memilih untuk masuk kedalam mobil Bang Je dan menangis didalam sana. Berkali-kali menarik nafasnya untuk melampiaskan semua emosinya. Gracia dinyatakan kalah sekarang. Kalah didalam persahabatan dan juga kalah didalam perasaan.
Semuanya telah menjadi abu semenjak Jevan menghancurkan. Rasanya sakit walau sudah memafkan. Tetapi Gracia yakin, perlahan gadis itu akan mengikhlaskan Jevan.
Dan juga mengikhlaskan perasaan yang tumbuh secara lancang.